Beberapa hari lalu teror dari anak buah Kang Dayat memang sempat mereda, membuat kehidupan di rumah menjadi lebih tenang, meskipun hanya dalam kesemuan. Namun, mulai hari ini teror itu kembali datang, lebih sering, lebih menuntut, dan lebih mencekam.
Entah sudah keberapa kalinya aku harus menjadi saksi kedatangan orang-orang Kang Dayat. Akhir-akhir ini yang datang bukan hanya dua orang, tapi bisa tiga bahkan lima orang sekaligus untuk menghadapi Ibu yang tua renta. Kali ini, aku yang membukakan pintu mereka. Tanpa salam, mereka langsung menuntut hak tuannya kembali.
Ibu mendengar suara gaduh di luar dan langsung menyusul. Wajahnya begitu ketakutan dan tertekan saat menghadapi lima pria berbadan besar dan bertato di depannya. Aku menggeggam tangan Ibu yang sedang berdiri di sebelahku. Ibu sibuk menunduk meminta maaf dan minta kelonggaran waktu. Salah satu orang Kang Dayat memberikan peringatan keras kepada Ibu. Bukan hanya peringatan, tapi juga disertai dengan ancaman.
“Bunga utang Ibu sudah semakin bertambah karena Ibu nunggak bayar terus! Bulan depan, paling tidak Ibu harus bayar bunganya dulu 1,5 juta kalau masih enggak bisa bayar, terpaksa Kang Dayat akan menyita paksa rumah Ibu!”
Ibu hanya bisa berjanji menuruti perintah mereka, tanpa pernah tahu bagaimana cara untuk menepatinya. Ibu melepaskan genggaman tanganku dan berlalu ke dapur. Aku mengikutinya. Dari ambang pintu aku melihat Ibu yang langsung menyibukan diri menyiapkan makan malam dengan tatapan yang kosong.
Malam ini, Ibu meminta aku membereskan semua sisa makan malam. Mulai dari mengangkat kembali semua peralatan makan dari ruang tengah ke dapur, menyimpan kembali nasi dan lauk yang tersisa, hingga mencuci semua gerabah yang kotor. Selepas makan malam, Ibu langsung beranjak ke kamar. Bukan untuk istirahat, tapi Ibu harus membereskan tumpukan baju-baju yang sudah menggunung dan belum sempat dilipat. Aku menuruti perintah Ibu di tengah-tengah waktku yang semakin menipis untuk menyelesaikan pesanan Bu Tarsi.
Suasana di dalam rumah kembali sepi, Mas Marno langsung pergi keluar dengan motornya. Sementara Bapak, duduk dibangku depan dengan asap rokok yang terus ia hembuskan. Aku menyalakan radio untuk menemani aku mencuci piring.
Suara lagu dari penyanyi muda yang sedang naik daun langsung menggema begitu aku menyalakan radio. Lirik lagu tentang kesetiaan dalam jiwa meskipun harus berpisah terdengar cukup menenangkan hati. Alunan musik nan indah itu tidak berlangsung lama karena setelahnya suara radio kembali diambil alih oleh sang penyiar yang harus menyiarkan laporan berita terbaru.
“Meskipun, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan moratorium. Namun, masih banyak ditemukan pihak ilegal yang nekat memberangkatkan calon tenaga kerja ke Arab Saudi. Pemerintah meminta masyarakat untuk menaati peraturan karena hal ini menyangkut keselamatan dari para calon tenaga kerja. Pemerintah Indonesia belum bisa memastikan kapan gelombang pemberangkatan calon tenaga kerja wanita ke Arab Saudi akan dibuka kembali karena hingga saat ini proses negosiasi dengan Pemerintah Arab Saudi masih terus berlangsung.”
Aku menghela nafas panjang. Tubuhku memang sedang di dapur mencuci piring, tapi pikiranku langsung berkelana jauh ke sana ke mari memikirkan nasib Mbak Istari dan juga Tami. Tidak ada waktu untukku rehat barang sejenak saja. Karena Ibu masih bekerja melipat baju di kamar, aku tidak perlu repot-repot membawa perkakas kerajinan ke dapur.
Lampu kamar masih menyala terang. Aku duduk di kursi yang ada di kamar, di meja yang ada di depanku ada banyak tumpukan tas pesanan Bu Tarsi. Aku mulai melanjutkan memasang manik-manik di bagian depan tas. Aku menjahitnya satu per satu hanya dengan jahit tangan.
Aku dan Ibu sama-sama sedang sibuk, fokus pada pekerjaan masing-masing. Tanpa suara, tanpa obrolan, dan tanpa tawa, meskipun kita berada di satu ruang yang sama. Aku mengurungkan niat untuk menempel manik-manik di tas bagian depan. Jarum dan bola jahit menggantung di udara selama beberapa detik, ketika tiba-tiba Ibu memanggil namaku. Aku menoleh sejenak ke arah Ibu yang masih fokus pada pekerjaannya melipat baju dan setelahnya, aku kembali fokus melanjutkan pekerjaanku, menjahit satu demi satu untuk menempel manik-manik.
“Tadi pas Ibu lagi keliling jualan, Ibu denger kalau ada mantan TKW dari desa sebelah yang bisa bantu berangkatin TKW ke Saudi meskipun, katanya sekarang lagi dilarang, Ndhis.”