Sangkar Sang Puan

Tya Fitria
Chapter #18

Nama yang Sudah Tertulis

Selepas aku pulang dari pabrik, aku bergegas pulang ke rumah. Di rumah pun, aku hanya sebentar, tidak lebih dari 15 menit. Setelah aku selesai memastikan semua pesanan Bu Tarsi telah rampung, aku harus segera mengantarnya ke toko Ci Merlin sebelum tutup. Pesanan tas Bu Tarsi ini akan diambil besok pagi. Jadi, apapun yang terjadi aku harus mengantarkannya sore ini. Aku tidak ingin merusak kepercayaan Ci Merlin dan Bu Tarsi.

Aku sampai di toko Ci Merlin menjelang senja. Ci Merlin sudah menutup setengah pintu tokonya, tapi dia masih menungguku. Aku langsung menyerahkan pesanan Bu Tarsi kepada Ci Merlin. Setelah Ci Merlin memastikan jumlahnya sesuai, ia kemudian memberikanku selembar amplop. Tidak seperti biasanya, kali ini Ci Merlin memintaku untuk menghitung isi amplop itu. 

“Ci ini enggak salah?”

Aku kembali memastikan karena amplop itu berisi uang 500 ribu. Seharusnya, aku hanya menerima 400 ribu karena satu tasnya aku jual 8.000 rupiah ke Ci Merlin. Ci Merlin tersenyum melihat kebingunganku.

“Itu rezeki kamu, Gendhis.”

“100 ribunya dari Bu Tarsi, katanya bonus karena kamu bisa selesein pesenannya padahal waktunya mepet banget.”

“Tapi Ci, kalau bonus 100 ribu ini terlalu banyak.”

“Gendhis, Bu Tarsi tahu kamu jahitnya manual. Aku kan udah sering bilang sama kamu, kalau kamu mau kasih harga ke aku lebih mahal, aku enggak keberatan. Aku pasti terima barang-barang kamu, Ndhis. Upah tenagamu itu mahal loh, apalagi jahitanmu juga rapi, modelnya juga bagus-bagus.”

Aku hanya tersenyum merasa malu karena tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu. 

“Bu Tarsi juga sempet cerita pas dia beli sarung bantal kamu bilang rapi banget jahitanya. Apalagi pas tahu kalau itu jahitan tangan kagum banget itu dia. Bu Tarsi juga pengin kamu buka jahitan sendiri, katanya dia mau jahit baju di kamu buat seragaman sama Ibu-Ibu pengajian.”

Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa kepada Ci Merlin dan Bu Tarsi selain terima kasih. Karena mereka, aku tetap bisa memegang teguh mimpiku selama ini dan yakin bahwa harapan itu masih tetap ada di tengah ketidakmungkinan.

Malam sudah semakin larut, tapi aku mataku masih termangu menatap atap yang gelap. Pikiranku sangat ramai. Pesanan Bu Tarsi sudah aku selesaikan dengan baik. Bahkan, Ci Merlin dan Bu Tarsi juga memberikan pujian hasil karya tanganku. Tadinya, aku mengira semua itu cukup untuk membuatku merasa lebih tenang. Apalagi, ketika Bu Tarsi tahu mengenai kemampuanku menjahit, dia berharap agar aku segera memiliki jasa jahit sendiri karena Bu Tarsi berencana membuat seragam Ibu-Ibu pengajian dan dia ingin mempercayakannya kembali kepadaku. 

Malam ini, aku mendapati kenyataan yang terjadi justru berjalan dengan sebaliknya. Aku merasa semua yang telah aku lakukan dan perjuangankan kini tidak lagi berarti apapun. 

Mesin jahit?

Membuat baju?

Menjadi penjahit mandiri?

Apakah aku masih pantas memimpikan semua itu?

Dalam kegelapan malam, pelan-pelan aku bangun dari tempat tidur agar tidak menimbulkan suara. Aku tidak ingin mengganggu istirahat Ibu. Dengan sangat hati-hati aku mulai mengambil tas dan membuka resletingnya. Aku menarik nafas panjang saat melihat map plastik berwarna biru itu di dalam tas. Aku mengeluarkannya dari dalam tas dan membuka tali map itu.

Aku mengambil buku tulis yang ada di dalam map, namun aku tidak langsung membukanya. Aku duduk dulu di tepi kasur, memegang buku itu dengan kedua tangan. Buku tulis ini terasa lebih berat, padahal isinya hanya 38 lembar. Di luar rumah, suara jangkrik terdengar begitu nyaring, sementara di dalam kamar terdengar jelas suara nafas Ibu yang teratur, dalam, dan tenang, seperti seseorang yang sudah selesai menyelesaikan masalah.

Sedangkan aku masih terjaga karena aku belum selesai dengan masalahku.

Aku melangkahkan kaki dengan pelan keluar dari kamar. Di ruang tengah Bapak sudah meringkuk di dalam sarung menikmati waktu istirahat dan kamar Mas Marno juga sudah tertutup rapat sejak beberapa waktu lalu ketika penghuninya baru saja pulang malam hari. Kakiku terus melangkah menuju dapur, satu-satunya tempat dengan sumber penerangan ketika malam. 

Aku duduk di atas lincak bambu, tempat yang sama ketika aku pertama kali menulis di buku ini malam itu. Malam setelah aku mendengar cerita dari Mbak Sarina, malam setelah aku mendengar laporan berita dari radio tentang moratorium, dan malam ketika aku tidak tahu untuk apa aku menulis semua ini di dalam buku ini. Saat itu aku menulis hanya karena aku ingin.

Aku membuka halaman belakang.

Tulisanku tidak rapi. Bahkan beberapa ejaan katanya mungkin tidak sesuai, beberapa kalimat menggantung tanpa titik. Tapi, semuanya ada di sini tentang tanggal pertemuan bersama Gema Wanita, jadwal program pelatihan ibu-ibu desa, kata moratorium yang baru pertama kali aku dengar dan belum aku mengerti artinya, lalu kalimat Mbak Sarina yang aku tulis sama persis seperti yang aku dengar waktu itu. Aku tidak ingin kehilangan satu kata pun dari ucapan Mbak Sarina.

“Saya rela melakukan semua itu demi keluarga. Hanya saja, saya sedikit merasa bingung ketika di sana karena tidak ada yang memberi tahu saya cara untuk menjaga dan melindungi diri sendiri.”

Lihat selengkapnya