Di tengah ketidakpastiaan ini, ada perasaan yang tak bisa aku jelaskan. Aku menikmati masa-masa ini. Meskipun, aku harus memulai semuanya sendiri dari awal. Aku susuri setiap jalanan kota, aku datangi satu per satu toko kain, toko baju, bahkan penjahit rumahan untuk menawarkan jasa yang aku miliki.
Beberapa tempat itu memberiku kesempatan untuk menyambung hidup. Bukan sebagai karyawan tetap, hanya buruh harian kasar. Tapi, aku tidak layak untuk mengeluhkan semua ini. Hari yang berbeda dengan atasan yang berbeda. Selama beberapa waktu aku terus menjalani hidup yang berpindah-pindah dari satu toko ke toko yang lain.
Sampai pada waktunya, semesta mendengar doaku dan mengizinkanku untuk bertemu dengan Mbak Arina. Pertemuan itu bukan sebuah kesengajaan. Dari pertemuan itu, aku bisa berjalan semakin jauh dan kembali memupuk mimpi serta harapan yang sebelumnya aku pikir sudah lebur.
Butik ini tidak besar. Hanya ada dua kamar pas, satu cermin besar di sudut ruangan, dan beberapa rak-rak baju yang setiap pagi harus aku rapikan sebelum mal buka. Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitasku yang baru. Meskipun, rasanya masih begitu asing.
Sudah lebih dari tiga bulan aku menjalani kehidupan baruku di kota besar. Tidak berbeda jauh ketika aku berada di penampungan dan di sini karena sama-sama tidak ada yang membangunkanku di sepertiga malam, tidak ada suara derit pintu tua yang bergesekan dengan ubin tegel sebagai alarm, dan tidak ada tangan yang mengguncang tubuhku sebelum aku benar-benar ingin terjaga.
Aku tinggal di sebuah kos yang tidak terlalu besar. Penjaga kosnya sangat ramah, menurutnya aku adalah anak yang pendiam. Mungkin memang dia benar. Namun, aku merasakan diam yang berbeda. Selama ini diamku terasa seperti ruang yang terlalu penuh untuk bersuara, tapi saat ini diamku terasa seperti ruang yang akhirnya memberiku tempat untuk berpikir sepenuhnya. Sekarang di kamar kos yang tak terlalu luas ini, hanya ada aku dan bunyi alarm dari ponselku sendiri yang bisa aku atur sesuai keinginanku. Aku akan bangun, tepat pada jam yang telah aku tentukan.
Aku bisa bertahan hidup di kota besar dengan modal yang tidak banyak.
Aku benar-benar hanya memanfaatkan apa yang aku miliki. Selembar ijazah Paket C, pengetahuan tentang beragam jenis kain dan model busana, serta kemampuan tanganku dalam menjahit kerajinan hingga baju.
Mbak Arina adalah seorang manajer butik di tempat aku bekerja.
Saat bertemu kembali dengan Mbak Arina untuk menjalani tahapan seleksi, Mbak Arina tidak terlalu banyak bertanya kepadaku. Mbak Arina lebih fokus untuk menguji kemampuan aku dalam melayani pelanggan. Setelah itu, Mbak Arina menyodorkan beberapa potongan kain ke hadapanku. Aku diminta menyebutkan nama-nama dan karakteristik dari setiap kain yang ada.