Ruangan ini masih sama. Tidak ada yang berubah, hanya saja ada rasanya ada yang berbeda. Bulan ini jumlah kain yang aku kerjakan di pabrik lebih banyak dari bulan lalu. Namun, jumlah ini masih jauh lebih sedikit dari jumlah kain terbanyak yang pernah aku kerjakan. Seharusnya bukan menjadi hal yang berat untuk aku menyelesaikan jumlah kain bulan ini. Pada kenyataannya, aku merasa cukup kewalahan.
Pekerjaanku harus selesai hari ini untuk bisa segera masuk tahap produksi. Tumpukan kain di meja stasiunku masih terlalu banyak. Tidak biasanya aku seperti ini. Suasana di pabrik yang selalu membuat aku memiliki arti hidup, kini seolah hilang tanpa arah. Tanganku bekerja tak secepat biasanya, tawaku tak seriang sebelumnya, dan rasaku tak setenang kemarin.
Panas begitu menusuk masuk melalui celah-celah ventilasi pabrik. Hawa yang sudah panas di dalam pabrik menjadi semakin membara. Cuaca sedang tak menentu. Menurut perhitungan kalender jawa seharusnya belum memasuki musim kemarau, tapi hujan pun sudah enggan turun selama beberapa waktu terakhir.
Satu per satu rekanku pergi meninggalkn stasiun mereka masing-masing untuk sekedar meregangkan tubuh mereka dan mengisi perut yang lapar. Banyak dari mereka yang mengajakku untuk beristirahat bersama, tapi tak ada satu pun ajakan yang aku terima. Aku melihat tumpukan kain di sebelahku yang masih menjulang tinggi. Aku melihat ke arah jam dinding. Aku harus memperhitungkan waktu agar semua pekerjaan bisa selesai tepat waktu.
Aku merelekan sebagian jam istirahat yang aku punya. Ketika waktu istirahat hanya tersisa setengah jam, aku baru berhenti bekerja dan beranjak dari stasiun. Aku memutuskan untuk mengisi perut di kantin pabrik. Dengan waktu setengah jam, aku tidak mungkin bisa bolak-balik pulang ke rumah untuk istirahat. Ini adalah kali pertama aku makan di kantin pabrik. Beberapa kali aku juga sempat makan di sini, tapi dengan perbekelan yang aku bawa sendiri dari rumah.
Aku masuk ke kantin berjalan dari satu ujung ke ujung lainnya untuk mencari makanan apa yang bisa aku makan. Bukan karena selera makanku yang susah, apalagi pilih-pilih makanan. Aku hanya sedang memilih makanan yang paling ramah dengan isi dompetku. Hanya tersisa satu lembar uang berwarna biru di dalam dompet. Aku harus bisa mengatur dengan baik uang yang hanya tersisa satu lembar ini hingga tanggal pembagian upah berikutnya.
Seharusnya, uang ini akan aku gunakan untuk membeli benang-benang jahit. Aku masih memerlukan beberapa rol benang untuk menyelesaikan pesanan tas Bu Tarsi. Karena itu, aku tidak bisa memilih makanan dengan bebas seperti yang aku mau. Kemarin, aku masih menyimpan dua lembar uang berwarna biru di dompet. Namun, sudah sejak minggu lalu Ibu selalu mengeluhkan kakinya yang terasa nyeri. Aku sudah membantu memijat kaki Ibu, tapi ternyata itu tidak cukup membantu.
Puncaknya adalah ketika aku melihat kaki Ibu yang mulai membengkak dan jalannya yang mulai kesulitan. Kata Ibu, rasanya pun menjadi semakin nyeri. Aku tidak bisa membiarkan Ibu semakin kesakitan dan tidak ada pilihan lain untuk aku selain membawa Ibu ke mantri desa untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Aku bersyukur karena sekarang kondisi Ibu sudah lebih membaik.
Aku memutuskan untuk membeli sepiring gado-gado dengan gorengan seharga 8.000 dan segelas es teh dengan harga 2.000 sebagai bekal asupan aku melanjutkan pekerjaan hingga sore. Aku duduk di ujung kantin yang dekat dengan pintu masuk. Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan apa aja yang ada di kantin karena ada termasuk orang yang sangat jarang ke kantin. Aku menikmati sepiring makan siang ini sendirian, kantin pun sudah tidak terlalu ramai karena pekerja yang lain sudah selesai makan.
Saat sedang bergegas untuk menyelesaikan makan siang, mataku menangkap sebuah tulisan yang tercetak tebal di selembar koran. Tak jauh dari pintu masuk kantin, ada rak khusus untuk koran dan majalah. Tulisan itu sangat besar, ada di halaman depan, dan menjadi tajuk utama untuk edisi hari ini. Aku meninggalkan makananku sejenak, aku beranjak ke arah rak koran. Aku mengambil koran itu dan membentangkannya. Aku langsung terdiam hanya dengan membaca tajuk utamanya.
TERJADI LAGI! LIMA TKW DI ARAB SAUDI MENGALAMI PENYIKSAAN OLEH MAJIKAN. SATU TKW TERANCAM HUKUMAN EKSEKUSI MATI KARENA MEMBELA DIRI
Aku melipat kembali koran hari ini, aku menatap ke arah meja tempat sepiring gado-gado-ku berada. Isinya masih banyak, bahkan separuh porsi pun belum selesai aku makan. Aku mengembalikan koran ini di raknya dan segera pergi kembali ke stasiun kerja.
Hari yang terasa sangat lama di pabrik, akhirnya berakhir. Tumpukan kain yang menggunung itu sudah aku serahkan ke bagian produksi dan sudah aku pastikan tidak ada lagi kesalahan. Aku segera pulang ke rumah. Biasanya, aku kerap pulang bersama Tami, tapi kali ini dan seterusnya sudah tidak lagi.
Pemandangan pertama yang aku lihat saat sudah dekat rumah adalah dua sepeda motor yang berlalu pergi meninggalkan rumah dengan suara knalpotnya yang bising dan asap yang mengganggu. Tak lama berselang, sebuah motor yang sudah tidak asing datang dan parkir dengan santai di depan rumah. Terlihat jelas, seorang perempuan renta sedang mengusahakan senyum terbaiknya untuk menyambut anak laki-lakinya yang baru saja pulang berkelana.
Aku pulang. Mas Marno duduk santai di bangku depan sambil membuka bungkus rokok yang sudah ke berapa kalinya untuk hari ini. Ibu pun tersenyum melihat aku sudah pulang sebelum petang.
“Ndhis, sumur bor kita airnya makin dikit. Kita pakai air sumur buat bikin jamu sama masak. Cuci bajunya di sungai, aja.”
Aku melihat di depan pintu rumah sudah ada satu rinjing besar berisi pakaian kotor orang satu rumah. Ibu sudah menyiapkan itu semua untuk aku.
“Iya, Bu. Gendhis ganti baju dulu.”
Ibu tersenyum mengangguk dan menepuk bahuku pelan saat aku melewatinya.
Aku mengangkat rinjing itu, Ibu membantuku menggendongnya di punggung dengan kain jarit. Aku mulai menapaki langkah menuju sungai desa untuk mencuci, sementara Ibu tetap tinggal di rumah untuk memasak makan malam.
Air sungai desa masih mengalir, tidak sederas biasanya memang, tapi keberadaannya masih cukup untuk membantu warga desa akan air. Aku tiba di sungai dan aku tidak sendiri. Aku tersenyum dan saling menyapa dengan banyak perempuan yang juga sedang mencuci baju. Mencuci di sungai terasa lebih cepat selesai karena bisa saling bercengkrama. Meskipun, setelah itu ada beban berat yang harus dipikul pulang ke rumah.
Aku mencuci di samping Mbak Misar. Aku cukup akrab dengan Mbak Misar karena dia adalah teman sebaya Mbak Istari. Mbak Misar juga seorang mantan tenaga kerja wanita, tapi Mbak Misar tidak pernah ke luar negeri, dia bekerja hanya sebatas sampai Ibukota. Sudah sejak satu tahun lalu Mbak Misar pulang ke desa untuk membantu mengurus mertuanya yang sakit stroke.
Saat sedang mencuci, suara celoteh anak kecil nyari terdengar dan suaranya pun semakin mendekat. Aku tersenyum saat melihat Thea dan Theo berboncengan menghampirinya Ibunya. Theo dengan semangat mengayuh sepeda itu dan Thea tersenyum riang di boncengan. Mereka adalah anak kembar Mbak Misar.