Dewi Sannaha memeluk erat Sanjaya kecil di salah satu ruang tersembunyi di bawah dapur istana.
Ruangan itu gelap, pengap, hanya diterangi oleh seberkas cahaya remang-remang yang masuk dari celah dinding batu.
Suara-suara mengerikan dari atas, raungan prajurit, jeritan kesakitan, dan derap kaki yang tak berkesudahan, terus menembus dinding tebal, membuat jantungnya berdegup kencang.
Sanjaya, yang selama ini dikenal sebagai anak periang, kini meringkuk ketakutan, tangisnya tertahan di dada sang ibu.
"Ibu… api… Ayah…" bisik Sanjaya, gemetar.
Dewi Sannaha mendekapnya lebih erat, mencium puncak kepala putranya yang lembut.
Air mata membasahi pipinya, namun ia berusaha keras untuk tetap tegar.