Udara malam yang sejuk mendadak terasa membeku, menusuk hingga ke tulang sumsum.
Di hadapan Dewi Sannaha dan Sanjaya kecil, Purbasora berdiri gagah, seringai kepuasan terpahat di wajahnya, diapit Raja Wiratara yang tak kalah bengis.
Pedang-pedang para prajurit Indraprahasta berkilauan di bawah cahaya rembulan yang samar, mengurung mereka dalam lingkaran maut.
Harapan seolah sirna, tertelan kegelapan dan pengkhianatan yang membakar Galuh.
Kobaran api Istana Galuh menjulang tinggi di belakang mereka, menjadi tugu kehancuran yang bisu, sementara di hadapan, musuh-musuh mengacungkan pedang, siap menamatkan riwayat terakhir keluarga raja.