Sangkara Dahana: Siasat Senyap Dua Mahkota

Imaduddin Badrawi
Chapter #6

Duel di Gerbang Bayangan

Dewi Sannaha mendekap Sanjaya erat, tubuhnya bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi, namun matanya memancarkan nyala tekad yang tak padam. Bukan untuk dirinya, melainkan demi putra tunggalnya.

Sanjaya kecil, dengan wajah pucat dan mata terbelalak, menatap pemandangan mengerikan itu.

Bayangan ayahnya, Raja Sanna, kembali menari-nari di benaknya, bercampur dengan kobaran api dan raungan kepedihan.

Ia merasakan cengkeraman ibunya yang semakin kuat, seolah hendak menelan dirinya agar tak terlihat.

Ki Raksasagara, dengan pedang terhunus dan otot-otot menegang, berdiri sebagai tameng hidup.

Kumis lebatnya bergerak seiring napasnya yang memburu, matanya memancarkan amarah yang membara, dicampur kepedihan yang tak terkira.

"Purbasora! Laknat kau!" Raungannya membelah keheningan mencekam. "Kau tak akan pernah bisa berkuasa dengan damai di atas darah saudaramu sendiri!"

Purbasora hanya terkekeh pelan.

"Damai? Kedamaian adalah milik yang kuat, Paman Panglima. Dan kini, akulah yang terkuat di Galuh ini. Serahkan Ratu dan Pangeran. Mungkin aku akan berbelas kasihan pada sisa nyawamu."

"Jangan bermimpi!" Ki Raksasagara tak menunggu lagi.

Dengan geram, ia menerjang maju, pedangnya membelah udara, mengincar Purbasora.

Ia tahu ini mungkin aksi bunuh diri, tetapi ia harus menciptakan celah, sekecil apa pun, demi keselamatan tunas Galuh.

Purbasora, meskipun terkejut dengan keberanian Raksasagara, dengan sigap menangkis serangannya.

Dua panglima besar bertarung dalam duel sengit. Baja beradu baja, dentingnya memekakkan telinga.

Lihat selengkapnya