Sangkara Dahana: Siasat Senyap Dua Mahkota

Imaduddin Badrawi
Chapter #9

Di Hadapan Prabu Tarusbawa

Mereka diantar ke balairung agung istana. Di sana, di singgasana yang megah, duduklah Prabu Tarusbawa, raja Sunda yang bijaksana dan disegani.

Prabu Tarusbawa adalah sosok yang tenang, dengan sorot mata tajam yang memancarkan kebijaksanaan dan ketenangan. Janggut putihnya yang terawat rapi menambah aura kharismanya.

Ki Raksasagara beserta rombongan segera berlutut di hadapan Sang Prabu, membungkuk dalam-dalam.

Sanjaya, dengan bimbingan Raksasagara, ikut berlutut, meskipun ia tak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.

"Bangkitlah, Ki Raksasagara," ujar Prabu Tarusbawa, suaranya lembut namun penuh wibawa. "Ceritakanlah apa yang telah menimpa Galuh."

Dengan suara berat dan penuh duka, Ki Raksasagara menceritakan semua yang terjadi: pengkhianatan Purbasora, invasi Indraprahasta, gugurnya Raja Sanna yang adil, dan pelarian mereka. Ia tidak menyembunyikan detail sekecil apa pun, menggambarkan kepedihan dan kehancuran yang menimpa Mandala Galuh.

Prabu Tarusbawa mendengarkan dengan saksama, sesekali menghela napas. Matanya menatap Sanjaya kecil yang berdiri di samping Ki Raksasagara, tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, namun matanya memancarkan ketakutan yang mendalam, sekaligus sepercik api yang tak mudah padam.

Prabu Tarusbawa mengenal Raja Sanna dengan baik, mereka adalah sahabat dan sekutu. Ia merasakan duka yang sama atas kehilangan Galuh.

Setelah Ki Raksasagara selesai berbicara, keheningan mencekam menyelimuti balairung. Para pembesar Sunda yang hadir tampak terkejut dan prihatin.

"Jadi," ujar Prabu Tarusbawa akhirnya, menatap lurus ke arah Sanjaya. "Inilah Pangeran Sanjaya, titisan terakhir dari garis keturunan Prabu Wretikandayun, sang pendiri Galuh."

Lihat selengkapnya