Sania

Nuel Lubis
Chapter #1

Dedek Suka Korea, Abang Suka Jepang

Sania, hantu perempuan cilik itu, cekikikan. Aku sekonyong-konyong cemberut. Dia selalu begitu.

"Kakak, kakak," ujar Sania mencolek lenganku, "emang apa bagusnya yang namanya anime itu?"

Aku terkekeh, geleng-geleng kepala. "Baca sendiri aja, Sania. Nggak ada yang bisa mengalahkan keseruan komik Saruto."

Kusodorkan komik ninja nyentrik itu kepada Sania. Dengan berhati-hati, Sania membolak-balikan halaman demi halaman. Kulihat, ia sama sekali tak antusias. Aku tahu Sania jauh lebih menyukai hal-hal berbau Korea. Nama-nama personel boyband Korea, Sania hapal mampus. Dia pun hapal adegan demi adegan dalam setiap adegan Men Before Flower versi Korea Selatan.

"Iya, iya, Sania," Aku cekikikan, dan sok mengelus-ngelus rambut Sania, "Sarutobi Rikumaki kalah ganteng dari cowok-cowok Korea yang ada di K-Drama itu."

Sania mendengus kecil. Bukan kesal, lebih ke gaya sok tahu yang selalu dia tunjukkan setiap kali merasa menang dalam perdebatan kecil kami.

“Ya jelas, Kak,” katanya, melipat tangan di dada mungilnya. “Coba lihat rambutnya Saruto. Kuning kayak mi instan. Mana ada oppa-oppa rambut begitu.”

Aku tertawa pelan. “Namanya juga anime, Sania. Bebas-bebas aja. Mau rambut biru, hijau, sampai pelangi juga bisa.”

Sania mengembalikan komik itu ke pangkuanku. Gerakannya ringan, nyaris tak terasa. Kadang aku lupa kalau dia ini bukan manusia. Ia sesungguhnya tidak nyata. Namun justru karena itu, setiap interaksi kecil seperti ini terasa lebih aneh dan belum tentu aku bisa dapatkan di mana-mana.

“Aku tetap pilih K-Drama,” katanya mantap. “Lebih romantis. Saruto hobinya perang mulu. Apa bagusnya sih, Kak?”

Aku menatapnya sekilas. Kata “nyata” itu terasa janggal saat keluar dari mulutnya.

“Nyata?” ulangku pelan.

Sania mengangguk cepat, seolah tak menyadari apa yang baru saja ia katakan. “Iya. Kayak… orang-orangnya bisa ketemu, bisa dipegang, bisa…”

Ia terdiam.

Aku ikut diam.

Lihat selengkapnya