Sania

Nuel Lubis
Chapter #3

Boneka Misterius

Aku menelan ludah.

Perasaan itu datang begitu saja. Yang dingin, merambat dari tengkuk ke punggung, lalu menetap seperti bayangan yang tak mau pergi. Tanganku otomatis menutup komik di pangkuan.

“Sania…” panggilku pelan.

“Hm?” Ia masih santai, kakinya bergoyang-goyang di udara, seolah tak merasakan apa pun.

“Kamu… ngerasa sesuatu nggak?”

Sania berhenti bergerak.

Perlahan, ia menoleh ke arahku. Bukan dengan ekspresi jahil seperti biasanya, tapi dengan wajah datar. Terlalu datar.

“Apa maksud Kakak?” tanyanya.

Aku ragu sejenak. Namun firasatku terlalu kuat untuk diabaikan.

“T-tadi… di sana.” Aku menunjuk ke arah lemari. “K-kayak ada yang gerak.”

Sania mengikuti arah jariku. Pandangannya menempel cukup lama ke sudut itu. Lama sekali, sampai aku merasa napasku sendiri terdengar terlalu keras.

Kemudian Sania sekonyong-konyong berdiri. Gerakannya pelan, tapi tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang berubah. Cara dia melangkah… lebih hati-hati. Lebih waspada.

“Kakak jangan ke mana-mana,” katanya pelan.

Aku mengerutkan kening, bertanya, “Loh, kenapa?”

Sania mengangkat tangannya, memberi isyarat agar aku diam. Baru kali ini, sejak aku mengenalnya, Sania terlihat sangat serius. Lalu ia berjalan mendekati lemari. Setiap langkahnya seperti mengikis keheningan di ruangan. Aku menahan napas.

“Sania…” bisikku.

Ia tidak menjawab.

Tangannya perlahan terangkat, seolah ingin menyentuh pintu lemari itu. Namun sebelum benar-benar menyentuh—

Lihat selengkapnya