"Jadi ada bedanya, Sania," tanyaku di atas sofa bed, "antara johahae dan saranghae?"
Sania mengangguk, tersenyum, dan kembali memunculkan lesung pipitnya. "Kalau sekadar naksir-naksiran, pakai johahae aja. Kalau udah yakin sama perasaan sendiri ke doi kamu, Kak, boleh pake saranghae."
Aku terkekeh. "Berarti sama kayak bahasa Jepang, yah. Naksir biasa aja, suki. Naksirnya naik selevel, jadi daisuki. Tapi kalau udah yakin dia belahan jiwa kita, atau di upacara pernikahan, baru paka aishiteru."
Sania bertepuk tangan kecil, matanya berbinar, saat berkata, “Nah! Kakak ngerti juga akhirnya!”
Aku nyengir, lalu merebahkan badan di atas sofa bed. Balasku, “Ya iyalah. Aku kan anak wibu sekaligus penyuka K-Drama dadakan gara-gara kamu.”
Sania cekikikan. Ia ikut merebahkan diri di sampingku. Aatau lebih tepatnya, melayang santai dengan posisi seperti orang tiduran. Ia lalu bertanya, “Berarti Kakak sekarang kalau suka seseorang, pakai yang mana?”
Aku terdiam sebentar. Pertanyaan sederhana. Namun entah kenapa terasa berat.
“Hmm… tergantung,” jawabku akhirnya. “Kalau masih ragu, ya johahae. Kalau udah mulai serius… mungkin aku bakal ngucapin saranghae.”
Sania memiringkan kepala. “Kalau ke aku?”
Aku langsung menoleh.
“Eh?” Aku tertawa gugup. “Lah, kamu ini gimana sih… kamu kan—”
Aku berhenti.
Hantu.
Harusnya aku bilang itu. Namun kata itu terasa kasar. Terlalu dingin untuk Sania. Lagi pula, Sania terlalu kecil untuk menerima kata-kata sarkas.
Eh, sebentar. Kalau kulihat sekali lagi, Sania ini sepertinya sudah akil balig. Mungkin usianya itu usia-usia murid SMP kelas 7.
Sania menatapku diam-diam. Senyumnya masih ada, tapi matanya menunggu. Aku tahu dia menunggu jawaban dari aku.
“Aku sayang kamu kok, Sania,” kataku akhirnya, pelan. "Terserah mau pakai johahae atau saranghae. Terserah juga mau pakai suki, daisuki, atau aishiteru."
Sania tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu. Hening.