Terdengar lagu Korea dari beberapa speaker mal. Aku tahu itu dari drama apa. Gara-gara Sania, aku mendadak kecanduan dengan segala hal berbau Korea. Tak hanya mendadak menyukai lagu-lagu Korea, aku keranjingan drama dan film Korea. Itu pun masih kurang. Aku malah tergugah untuk belajar bahasa Korea.
Yah, aku mendadak ingin sekali fasih berbahasa Korea. Seolah aku akan dinas ke Korea. Seolah jodoh aku itu perempuan Korea.
Korea, yah...
Pandangan aku beralih ke hantu perempuan bernama Sania itu. Bahkan ia ikut aku pula, saat ingin bersantai sejenak.
Sania tersenyum balik ke arah aku. Astaga, lesung pipit itu. Mata sipitnya juga.
Aku memegang letak jantung aku. Apakah yang namanya jatuh cinta seperti ini? Hei, Sania itu tidak kelihatan. Di antara ratusan pengunjung mal ini, hanya aku yang bisa melihat Sania.
Sania lalu berceloteh, dan kembali dengan kemampuan berbahasa Korea yang bahkan lebih fasih dari perempuan Korea. Padahal menurut pengakuannya, Sania lahir di Solo, Jawa Tengah.
"Iman oppa, opparang gachi sanchaekhaeseo jeongmal gippeoyo. Johahamnida."
Begitu kata Sania, dan lagi-lagi lesung pipit itu muncul. Andai Sania yang sekarang ini berusia yang tak jauh berbeda dengan aku, aku pasti jauh lebih bahagia lagi.
Sekonyong-konyong ada beberapa penggemar grup idola itu lagi. Mereka melintas saat aku tengah duduk di bangku yang tersedia di area dalam mal. Salah satu dari mereka mengenakan ransel, dan di ransel itu, ada nama salah satu member. Aku kaget dan nyaris tergelak. Namanya sama seperti hantu kecil di dekat aku. Sama-sama Sania. Aku baru sadar juga, antara Sania si member, dan Sania si hantu kecil, wajah mereka nyaris identik.
Aku menatap ransel itu lebih lama dari yang seharusnya.
“Sania,” gumamku pelan, hampir tak terdengar di tengah riuh mal.
“Hm?” Ia mendekat, ikut mengintip. “Apa, Kak?”
Aku menunjuk ransel itu. “Nama member itu sama kayak nama kamu. Sama-sama Sania juga, San.”
Sania menyipitkan mata, membaca tulisan yang tergantung di gantungan kecil itu. Namun senyumnya perlahan memudar.
“Oh…” lirihnya.
Untuk kali pertama sejak kami di mal, ekspresi Sania tidak ceria. Seperti ada yang ia coba rahasiakan dari aku.
Aku mengalihkan pandangan ke wajahnya. Lesung pipit itu tidak muncul. Matanya tidak lagi menyipit manja seperti biasanya. Justru ada sesuatu yang lain. Sania seperti kebingungan.
“Kamu kenal nama itu?” tanyaku hati-hati.
Sania menggeleng pelan.
“Nama Sania kan ada banyak, Kak,” katanya cepat, lalu memaksakan senyum. Lesung pipit itu kembali muncul.
Aku mengangguk, meski dalam hati tidak sepenuhnya percaya.
Kelompok penggemar itu berlalu. Suara mereka memudar, digantikan lagi oleh lagu Korea yang diputar dari speaker mal. Kali ini lagu balada. Pelan dan melankolis.
Sania tiba-tiba duduk di sampingku. Tidak bicara.