Kembali aku sedang berjalan-jalan di mal. Bersama Sania, gadis hantu kecil yang sudah beberapa bulan aku alami. Gadis kecil yang amat menyukai budaya Korea.
Pernah aku iseng bertanya, "Apa kamu pernah ke Korea, Sania?"
Dengan senyum misterius, ia menjawab, "Belajar bahasanya sih sering. Ke Korea-nya belum pernah."
Setelah itu, ia seolah menghindar, setiap aku bertanya-tanya lebih lanjut tentang dirinya sendiri.
Omong-omong, apa ada yang aneh dari gelagat aku? Kenapa beberapa pengunjung mal memperhatikan aku?
Sania sekonyong-konyong mengikik. Ia mengarah ke arah sebuah toko olahraga. Pandanganku terarah ke sana.
Katanya jahil, "Kakak pernah coba alat-alat olahraga yang kayak di sana nggak?"
Aku menggeleng, terkekeh. "Belum pernah."
Aku sendiri orangnya kurang menyukai olahraga. Dulu, saat masih awal kuliah, aku sempat tebersit untuk masuk ke tempat gym. Namun aku urungkan, karena alasan malas. Olahraga yang paling aku lakukan sering adalah bersepeda. Itu juga terpaksa aku lakukan, karena bersepeda juga caraku bepergian ke mana-mana.
"Mampir dong, Kak," bujuk Sania menyeret tanganku agar mau ke toko olahraga di sana.
"Eh, ngapain?" tanyaku menolak. "Nanti aku dikira mau beli."
"Masuk doang juga nggak salah, kok," jawab Sania terus menyeret aku, agar mau.
Beberapa pengunjung memperhatikan aku. Andai mereka bisa melihat Sania, pasti aku akan disangka om-om senang yang menggoda daun muda yang baru akil balig.
Aku terkekeh. Mau tak mau aku masuk ke dalam toko olahraga. Jalanku sedikit aneh. Sengaja aku garuk-garuk kepala, agar para pengunjung itu mengira aku sedang... stres. Orang yang sangat stres, dan saking stres, ia terhuyung-huyung ke toko olahraga.
Sesampainya di toko olahraga, seorang laki-laki yang mungkin sebaya dengan aku langsung menyapa, "Pagi, Mas, ada yang bisa dibantu?"
Perhatian aku langsung ke treadmill yang berada dekat pintu masuk. Si Jahil Sania langsung berbisik, "Tanyain, Kak, apa bisa dicoba. Biasanya toko-toko olahraga begini, nggak masalah kalau Kak Iman mau coba-coba alat mereka."
Aku menarik napas dan berkata ke pria ini, "Boleh saya coba treadmill ini nggak, Mas?"
Pria ini tersenyum dan berkata, "Oh, boleh, boleh... kebetulan hari ini kami lagi ada promo, Mas. Mau coba-coba alat gym di toko kami, boleh kok. Tapi boleh minta datanya Mas dulu?"
Aku mengangguk kikuk. “Oh… iya, boleh.”
Pria itu mengambil sebuah tablet kecil. “Nama, nomor hape, sama email saja, Mas.”