Sania

Nuel Lubis
Chapter #7

Cara Makan Bakso ala Sania

Aku mengangguk kikuk ke arah si empunya warung bakso ini. Kelihatannya dia seperti melihat sesuatu. Sesuatu yang aku maksud itu... apa mungkin mas-mas ini bisa melihat Sania?

Sania terus menerus mengikuti ke mana aku melangkah. Seperti memiliki adik kecil yang manis saja.

Aku lalu duduk di dekat sebuah kipas angin. Kipas angin ini, menurut aku, cukup unik. Tidak ada penutupnya.

"Kenapa, Kak?" tanya Sania cekikikan. "Biasa aja, keleus. Di Singapore atau Malaysia, yang begini mah banyak."

Aduh, aduh... Sania, Sania, ada-ada saja ulahmu membuat aku tertawa. Keleus, dia bilang. Macam anak remaja dari Jakarta Selatan saja. Keleus, sabi, gercep... entah kosa kata gaul ala Jakarta Selatan mana yang ia ketahui.

Mas-mas itu datang, membawa pesanan aku tadi. Tadi aku memesan bakso dengan bakso utamanya itu bakso isi telur. Sebenarnya aku memesan ini karena disuruh Sania. Sembari meletakkan mangkuk ke hadapan aku, mas-mas itu berkata, "Persahabatan antar dunia yang unik, yah, Mas..."

Aku hanya tertawa. Sudah kuduga, mas-mas ini bisa melihat Sania yang mana rohnya Sania wara-wiri di sekitar aku.

"Kak Iman," ujar Sania nyengir, "tuangin dulu saos sama sambalnya ke atas bakso sama mi-nya. Beuh... itu enak banget, tauk, Kak Iman. Kakak harus coba."

Aku tertawa dan spontan mengikuti kemauan Sania lagi.

Lebih aneh lagi, si mas-mas ikut berceletuk, "Iya, Mas, itu cara makan yang luar biasa enak banget. Setelah diaduk, tuangin kecap manis. Mak nyuuusss!!!"

Sudah kuduga mas-mas ini bisa melihat Sania. Meskipun ia tak berkata secara eksplisit, nyatanya memang bisa melihat Sania. Kubiarkan saja.

Aku tertawa kaku. Spontan aku mengikuti keduanya. Menuangkan sambal dan saos, mengaduknya, lalu disiram dengan lautan kecap manis. Ternyata, baik Sania maupun mas-mas ini, nasehat keduanya benar. Bakso yang aku makan ini terasa sangat luar biasa lezat.

“Gimana, Kak?” tanya Sania, matanya berbinar penuh harap. "Enak kan, cara makan yang aku bilangin tadi?"

Aku mengangguk cepat, mulut masih penuh. “Enak banget. Kamu benar, Sania, ini cara makan bakso yang enak banget.”

Mas-mas penjual itu tersenyum tipis, seperti puas melihat reaksiku. Namun ada sesuatu di senyumnya. Yang bukan sekadar ramah pelanggan. Lebih seperti mas-mas ini tahu sesuatu.

“Kadang,” katanya pelan sambil mengelap meja sebelah, “rasa jadi lebih kuat kalau dinikmati bersama dua dunia. Itu persahabatan dua dunia yang indah sekali, Mas.”

Aku berhenti mengunyah.

Sania juga diam.

Aku menelan perlahan, lalu mencoba tertawa ringan. “Maksudnya Mas?”

Mas-mas itu menatapku. Tepat ke mataku. Lalu, sedikit melirik ke arah Sania.

“Mas nggak sendirian, kan?” katanya santai.

Sania langsung merapat ke sampingku.

Lihat selengkapnya