Sania

Nuel Lubis
Chapter #8

Surat Cinta dalam Bahasa Korea

"Kak," Sania beringsut lebih dekat ke arah aku, "itu cara hangeul-nya salah, tuh."

Aku tergesa-gesa untuk menghapus dan membenarkannya sesuai arahan Sania. Omong-omong, lucu juga, ada seorang pemuda berusia 26 tahun, membiarkan dirinya seolah-olah diatur oleh gadis yang berusia beberapa tahun di bawahnya. Itulah aku, Iman.

Kalau dilihat-lihat, Sania ini manis juga. Aku selalu suka melihat senyumannya. Langsung menyipit dan... amboi, lesung pipit tersebut.

Kembali aku menulis hangeul yang baik dan benar. Sania menyuruh aku menulis kalimat "Belajarnya sih sudah, tapi ke Korea belum pernah" dalam hangeul Korea. Beberapa jam yang lalu, aku dipaksa Sania untuk menghafal aksara Korea.

"Kalau kamu sudah hafal aksaranya, Kak," Sania mengacungkan jempol, "dijamin enak nulis hangeul."

Kembali juga aku membuka buku "Belajar Cepat Bahasa Korea". Aku coba melihat aksaranya lagi. Ternyata aku salah tulis huruf.

Aku menghela napas panjang. “Aduh, ini huruf apa lagi sih, San…”

Sania langsung mendekat, wajahnya hampir sejajar dengan bukuku. “Itu bukan ‘eo’, Kak. Itu malah jadi ‘a’. Makanya artinya bisa beda jauh.”

Aku mengernyitkan dahi, protes, “Serius? Cuma beda sedikit doang bentuknya.”

“Bahasa itu sensitif, Kak,” jawab Sania sok bijak. “Salah dikit, bisa beda arti. Nanti bukannya bilang ‘belum pernah ke Korea’, malah jadi ‘aku makan Korea’ lagi.”

Aku spontan tertawa. “Hah? Emang ada yang ngomong begitu?”

Sania ikut cekikikan. “Ya nggak ada juga sih, Kak Iman. Tapi bisa aja jadi aneh.”

Aku menggeleng sambil tersenyum, lalu menghapus lagi tulisanku. Pelan-pelan aku mencoba menulis ulang, kali ini lebih hati-hati. Selanjutnya aku meneruskan pekerjaan aku ke Sania.

"Daebak, Oppa," Sania memberikan simbol V di jemarinya. "Johahae. Berikutnya, coba bikinin aku surat cinta, tapi dalam bahasa Korea."

"What?" tanyaku mengernyitkan dahi. Makin ke sini aku merasa Sania ini orangnya pecicilan juga.

Sania mengangguk. "Bikinin aku, Kak, ayooo..."

Aku menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah. “Kamu ini ya… hobi banget ngerjain aku.”

Sania langsung merapat, dagunya hampir menyentuh meja. “Ayo, Kak… sekali aja. Aku pengen tahu rasanya dapet surat cinta dari lawan jenis, tauk, Kak.”

Aku terdiam sebentar. Entah kenapa kalimat itu terasa lebih dalam dari sekadar candaan.

“Ya udah,” kataku akhirnya. “Tapi kalau jelek, jangan ketawa. Jangan ngambek dong, San. Kamu ngambek, kawaii-nya berkurang.”

Sania mengangguk cepat. “Arasseo!”

Aku mulai menulis pelan di kertas.

사랑하는 사람에게

Tanganku sempat berhenti. Aku melirik Sania. Ia memperhatikan dengan serius, matanya berbinar.

Aku lanjut menulis.

멀리 있어도 항상 생각해요…

보고 싶어요…

그리고… 사랑해요.

Aku berhenti.

Jantungku berdetak agak cepat.

Lihat selengkapnya