"Neoreul manhi manhi johahae..."
Begitu aku menyenandungkan lagu Korea tadi, Sania muncul sekonyong-konyong. Ia keluar entah dari mana. Sembari memunculkan lesung pipit itu lagi.
"Kak Iman, Kak Iman," seru Sania nyengir, histeris. "Tadi kan aku sempat jalan-jalan keluar di sekitar rumah kamu. Ternyata lagi banyak yang suka dengerin lagu-lagu bahasa Jepang."
Aku terkekeh. "Masa? Ternyata aku bukan satu-satunya wibu di komplek ini."
Sania tertawa.
Aku ikut tertawa terbahak-bahak.
"Kakak, kakak... apa kamu pernah dengar soal konspirasi alam semesta?"
Aku mengernyitkan dahi dan bertanya balik, "Konspirasi alam semesta? Apaan tuh?"
"Kan kamu pernah bilang ke aku, sudah beberapa minggu ini, di sekitar kamu, kamu kayaknya gampang banget nemuin hal-hal berbau Jejepangan."
Aku mengangguk. "Iya, dulu aku pernah cerita ke kamu soal itu. Soal aku yang..."
"--kalau jodoh pasti nggak akan ke mana, Kak Iman," ujar Sania mengerlingkan dahi. "Nggak ada mustahil juga, kan. Saking ngebetnya sama perempuan Jepang itu, kamu sampai sengotot itu belajar bahasa Jepang. Sampai-sampai sekeliling kamu mendukung kamu biar terus gencar belajar bahasa Jepang."
Aku tertawa. Sepertinya aku paham dengan kata-kata Sania tersebut.
Sania langsung memainkan pistol dengan jemarinya dan berkata, "Ping pong, ping pong... nah itu, yang aku maksudkan dengan konspirasi alam semesta. Seberapa ngotot kita mengejar sesuatu, sampai-sampai alam semesta terus mengupayakan kita agar impian itu terkabul."
Aku geli saat Sania berkata "Ping pong" tersebut. Akhirnya Sania yang tergila-gila dengan Korea, mulai terseret ke arah pusaran wibu.
"Kamu ini ya… ngomongnya makin ke mana-mana."
Sania tertawa, lalu duduk bersila di udara, persis di depanku, selanjutnya melanjutkan kata-katanya, “Tapi bener, kan, Kak. Coba deh dipikir dulu. Dulu Kakak tiba-tiba sering ketemu hal-hal Jepang. Sekarang?”
Aku mengangkat alis. “Sekarang… aku kan mendadak suka yang berbau Korea?”
Sania menunjuk aku dengan gaya sok detektif, berseru, “Nah! Itu dia!”
Aku terdiam sejenak. Kalau dipikir-pikir, yang dikatakan Sania memang aneh. Dulu aku bertemu dengan hal-hal berbau Jepang secara mendadak. Lagu, anime, orang-orang yang tiba-tiba bahas Jepang. Sekarang, semuanya berubah menjadi Korea. Entah itu drama, musik, bahasa, bahkan…
Aku melirik Sania.
“…kamu,” gumamku pelan.
Sania memiringkan kepala. “Aku kenapa, Kak?”
Aku ragu sejenak, tapi akhirnya tetap bicara. “Kamu juga bagian dari itu, nggak sih?”
Sania terdiam. Kali ini aku tidak langsung menjawab dengan candaan.
“Aku?” ulangnya pelan.
Aku mengangguk. “Iya. Kamu kan suka Korea banget. Kamu ngajarin aku cara baca tulisan Korea. Kamu muncul… pas aku mulai suka semua ini.”
Sania menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“Aku… nggak tahu,” katanya pelan. "Tapi masa sih, Kak?"