Aku berdiri di depan cermin. Cermin ini tidak besar, tapi cukup untuk menangkap tubuhku, setidaknya sampai bagian pinggang. Kutatap baik-baik bayanganku dalam cermin. Kuhembuskan pelan-pelan. Napasku sempat terengah-engah.
Plop!
Dia muncul lagi. Maksudku, Sania, hantu perempuan kecil yang akhir-akhir ini menemaniku layaknya seorang kekasih. Melihat kemunculan dirinya, aku langsung menggeleng-gelengkan kepala. Gemas sekali aku melihat Sania. Apalagi jika Sania sedang tersenyum. Amboi, lesung pipit itu, matanya yang segaris.
"Hayo, mau ngapain?" tanya Sania cengar-cengir. "Aku senang banget kamu mau praktekin yang aku kasih tahu, Kak. Demi kebaikanmu, Kak Iman."
Aku hanya mengangguk, tersenyum tipis.
"Lagian, Kak, kamu itu cowok. Digangguin gitu, yah, bales dong. Dengan kamu bales orang-orang yang suka gangguin kamu, nggak akan bikin kamu masuk penjara. Tunjukin kalau mereka nggak bisa seenaknya ke hidup kamu."
"Yah, kamu benar, Sania," ujar Sania tersenyum, dan kembali iseng membelai-belai rambut Sania.
"Sekarang coba, ikuti," Sania mulai menggerakkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah, "tarik, hembus, tarik, hembus..."
Aku mengikuti apa yang Sania perintahkan. Lalu setelah itu, aku pelan-pelan mengikuti apa yang Sania suruh beberapa saat kemudian. Namun, pelan-pelan aku menarik napas dalam-dalam dulu. Setelah yakin, barulah aku beraksi. Di depan cermin, aku berbicara sendiri. Atau tepatnya aku berbicara kepada bayanganku depan cermin.
"Hey, kamu, Iman, ingat-ingat baik-baik, kamu itu harus lebih berani. Sudah sepatutnya kalau diganggu, yah, dibalas. Kamu itu cowok gitu, loh. Kamu bukan bencong. Masih suka cewek. Jangan manja. Harus bisa balas sendiri. Kumpulkan keberanian kamu!"
Suaraku menggema pelan di kamar. Kata-kata itu terdengar aneh keluar dari mulutku sendiri. Seolah bukan aku yang bicara, tapi seseorang yang mencoba menjadi aku. Lalu aku menatap bayanganku di cermin.
“Harus bisa balas sendiri,” ulangku lebih pelan.
Sania berdiri di sampingku, mengangguk-angguk bangga, berkata, “Nah, gitu, Kak! Lebih tegas lagi!”
Aku menarik napas lagi, kembali bersuara, “Kumpulkan keberanian kamu…”
Tiba-tiba bayanganku di cermin tidak langsung mengikuti. Aku mengernyitkan dahi. Sekonyong-konyong gerakanku berhenti. Namun bayangan itu terlambat sepersekian detik. Seperti video yang sedang buffering.
“Sania…” bisikku.
“Iya?” jawabnya santai.
“Kamu lihat nggak?”
“Apa?”
Aku menunjuk cermin.
Sania menoleh.
Beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Lalu ia langsung menegang.
“Kak… ulang lagi gerakan tadi.”