Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #1

1

“Selamat datang di Saninten 16. Rumah bagi Anda yang mencari rumah. Hanya tersedia tujuh kamar di tempat ini. Anda bisa tinggal sesuai waktu yang dikehendaki. Perlu diketahui, pintu rumah kami tidak terbuka bagi sembarang orang. Rumah kami punya cara tersendiri untuk memilih calon penghuninya…”

Siapa sangka bahwa cuitan misterius itu membuat Rui sekarang berdiri di depan sebuah rumah besar di Jalan Saninten nomor 16. Malam itu hujan mengamuk dan Rui memutuskan tidak akan pernah pulang. Dengan ransel hitam andalan, ia menghabiskan lebih dari sepuluh menit mengamati bangunan di hadapannya. Rumah bernuansa putih dengan aksen kayu coklat, bergaya modern tapi sarat sentuhan kuno, terasing namun tidak menjual sepi. Rui bukan penyair, tapi pandai sekali ia mendeskripsikan rumah ini dengan puitis. Sayangnya, sederet kalimat indah tidak akan menyelamatkannya dari deras hujan malam ini.

“TRIIING,” bel ditekan setelah Rui memantapkan diri berulang kali.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima detik. Tidak ada respon dari penghuni. Bisa jadi mereka tidak dengar. “TRIIING!” Rui memencet bel untuk kedua kali. Masih tanpa pergerakan dari dalam. Sebelum menekan bel untuk yang ketiga kali, Rui teringat kalimat, “Perlu diketahui, pintu rumah kami tidak terbuka bagi sembarang orang.” Oh, berarti dirinya memang bukan yang diterima. 


Pagi tadi Rui terbangun dari mimpi aneh yang berulang selama empat hari berturut-turut. Mimpi yang tampak bak akumulasi adegan film dipercepat, tidak jelas dan serba blur, meskipun begitu, Rui mengingat pasti setiap detil. Ia tidak bisa menjelaskan maknanya karena mimpi adalah buah interpretasi. Seperti yang Bapak selalu bilang, mimpi tidak menuntut semua orang untuk memahami. Satu jiwa yang tahu maknanya saja sudah cukup. Yang Rui tahu, melalui mimpi-mimpi itu, ia harus segera pergi dari rumah. Dalam waktu singkat, Rui mengemas barang-barangnya di dalam satu tas, berpamitan dengan keluarga dan bergegas meninggalkan tempat tinggalnya selama beberapa tahun terakhir. Ia menyusuri tempat dan jalan yang belum pernah didatangi sebelumnya, memperhatikan keadaan dan memikirkan apa langkah selanjutnya. Rui hanya mengikuti bisikan hati yang entah dari mana asalnya. Tepat pukul satu siang, Rui memasuki sebuah cafe mungil yang terletak di ujung jalan cukup ramai. Untungnya, keadaan di dalam sunyi, kontras dengan keramaian di luar. Hanya ada dua orang, yang satu sedang membaca buku tebal dengan judul dalam bahasa Jepang, dan satu lagi, seorang pria yang sedang serius memuat sketsa jalanan dari jendela besar kafe di sebuah buku bersampul biru tua. Rui memilih tempat di dekat barista. Ia memesan segelas ice long black dan grilled chicken pesto sandwich untuk mengisi perutnya hari ini. Setidaknya sampai ia menemukan tempat istirahat berikutnya. Rui belum pernah mencicipi kombinasi rasa unik nan legit seperti ini. Ia melahap habis makanannya dalam sekejap. Piringnya sudah bersih tapi perutnya masih menuntut. 

Lihat selengkapnya