Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #3

3

Tidak ada yang lebih menegangkan selain berhadapan langsung dengan orang yang bisa menelanjangi isi pikiranmu. Seperti itu impresi Rui terhadap wanita asing di hadapannya. Mungkin tidak benar-benar asing, sebab beberapa menit yang lalu, ia baru saja memperkenalkan diri.

“Saya Mar, biasa dipanggil Mbak Mar. Saya penghuni Saninten 16. Ada yang bilang penjaga, ada yang bilang juru kunci, ada yang bilang kuncen, terserah mau menganggap saya apa. Yang penting, cukup panggil saya Mbak Mar.”

Mbak Mar. Wanita yang begitu anggun dengan aura yang tidak biasa. Tubuhnya semampai sehingga pakaian yang sedang dikenakannya terlihat tepat. Kulitnya jernih, seolah seluruh isinya tubuhnya, termasuk pergerakan sel serta aliran darah, dapat dipantau dengan jelas. Rambutnya disanggul dengan beberapa helai rambut yang dibiarkan terurai, tampak asal-asalan meski tetap rapi. Ketidaksempurnaan yang diperhitungkan. Keseluruhan tampilan Mbak Mar memancarkan sisi elegan seorang wanita.

“Jadi, siapa nama kamu?”

“Rui.”

Nihil tanggapan selain gerakan mata Mbak Mar yang menelisik.

“Saya ke sini kare—”

“Saya tidak perlu tahu kamu ke sini karena apa,” Mbak Mar menatap lebih intens. “Saya hanya butuh tahu apa rencana kamu dan apa yang akan lakukan selanjutnya?”

“Rencana yang akan dilakukan,” Rui mengulang kalimat Mbak Mar. Bukan seperti pertanyaan, lebih pada penegasan.

“Saya paham kamu belum tahu akan tinggal di tempat ini sampai kapan. Tapi kamu harus menentukan langkah selanjutnya. Bergerak sesuai alasan kamu sampai di sini.”

“Saya boleh tinggal di sini sampai waktu yang belum ditentukan?”

Mbak Mar mengangguk. Masih dengan senyuman yang menyiratkan sisi misteriusnya.

“Kamu bebas menggunakan fasilitas di rumah ini. Perlu dicatat, rumah ini punya tiga peraturan utama yang wajib ditaati setiap penghuni.”

Lihat selengkapnya