Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #4

4

“Selamat siang, perkenalkan saya Shaz, jurnalis Media Matra. Saya membaca utas Anda tentang kakak perempuan Anda yang hilang setelah tinggal di rumah Jalan Saninten nomor 16. Kalau memungkinkan, saya ingin berbicara langsung untuk mengetahui detailnya dan saya bersedia membantu menemukan kakak perempuan Anda. Apa saya bisa minta kontak Anda supaya bisa didiskusikan lebih lanjut?”

Sudah lebih dari dua jam Shaz mengirimkan pesan tersebut namun belum ada jawaban. Sejujurnya, ia tidak yakin akan menerima respon yang diharapkan. Bagaimana tidak, ada orang asing yang tiba-tiba berniat menawarkan bantuan melalui media sosial dan meminta nomor kontak, sungguh mencurigakan di jaman sekarang. Waspada adalah hal pertama yang patut dilakukan. Sulit menjelaskannya, tetapi Shaz merasa terpanggil oleh rumah tersebut. Seperti perasaan bahwa “dia lah jodohku” saat bertemu orang yang tepat, Shaz pun merasakan sensasi serupa Tentu saja, ia juga harus menulis liputan eksklusif tentang fakta di balik rumah itu karena bagaimana pun, menghasilkan tulisan yang menggugah adalah bagian dari pekerjaannya. Walau begitu, lebih dari tugasnya sebagai jurnalis, Shaz berniat menginvestigasi segala hal yang memang harus diungkap. Terbakarnya rumah di Jalan Saninten nomor 16, lenyapnya seluruh penghuni yang tinggal di sana, keterangan tetangga yang tidak pernah melihat pergerakan dari dalam rumah. Semua kejanggalan itu mesti dikupas tuntas. Ada dua kemungkinan: aksi kriminal atau kegiatan yang berkaitan dengan supranatural. Setidaknya untuk sementara, dua hal itu yang terlintas di benak Shaz. Ia mengecek handphone nya kembali. Masih belum ada balasan. Tidak punya cukup kesabaran, Shaz pun meraih kunci mobilnya dan menyalakan mesin Mazda CX-5 nya untuk bersiap-siap menuju ke tempat kejadian perkara.

Shaz tiba di Jalan Saninten empat puluh menit kemudian. Jam menunjukkan pukul 16.48, anehnya, lingkungan perumahan tampak sepi. Terlalu sunyi bahkan. Di jam-jam ini, biasanya orang-orang sudah pulang kerja, ada yang lagi bersiap memasak makan malam, anak-anak bermain di depan rumah setelah dipaksa tidur siang, sebagian ibu mengangkat jemuran atau menyapu teras rumah, dan sebagiannya lagi bergunjing di warung tetangga. Yang Shaz jumpai sekarang hanyalah kawasan pemukiman senyap, seolah seluruh penghuninya baru saja mengungsi dan meninggalkan rumah beserta barang-barang mereka begitu saja. Seakan lauk yang mereka sajikan bahkan masih mengepul di meja makan. Shaz meneruskan langkahnya sampai mendapati sebuah tanah kosong dengan beberapa bangkai bangunan yang menghitam. Rumah Saninten nomor 16. Shaz mengamati setiap sudut, menulis apa yang perlu dicatat, lalu menganalisis hasil observasinya. Luasnya mungkin sekitar dua ratus meter persegi, sepertinya bangunan tingkat dua, ada taman di bagian belakang, dan yang tersisa hanya sumur tua. Shaz melangkah di antara puing-puing bangunan, mencari petunjuk sekecil apa pun. Pertanyaan paling sulit pun, selalu dihadirkan bersamaan sebuah jawaban. Seperti dua sisi koin yang saling melekat satu sama lain walau tidak saling menemukan. Terkadang, butuh waktu dan ketekunan untuk mendapati titik terang dari sebuah tanda tanya besar. Aku punya banyak waktu untuk menelusuri pertanyaan-pertanyaan ini, ucap Shaz pada dirinya sendiri. Saat ia berniat mendekati sumur tua, sesuatu menarik perhatiannya. Sebuah sobekan kertas lusuh dengan beberapa bagian yang telah terlalap api, bertuliskan ‘...de nulle part’. Shaz seperti tersadar akan sesuatu ketika tiba-tiba sebuah notifikasi di handphonenya masuk dan membuyarkan seluruh konsentrasinya.

“Terima kasih telah mengontak saya. Berikut nomor saya xx xx xx xx xx.”

- Ara -


Lihat selengkapnya