Rui belum pernah terlelap senyenyak ini. Rasanya ia telah tidur berhari-hari hingga setiap jengkal tubuhnya bertenaga dan hidup kembali. Apa karena dirinya terlalu lelah kemarin? Terlalu banyak hal yang Rui alami dan semua layaknya mimpi. Kalau saja kamar tidur yang ditempatinya kini adalah kamar yang selalu dilihatnya ketika bangun pagi, Rui tentu berpikir semua ini sebatas mimpi. Sayangnya, dia tidak bermimpi sedikitpun dalam lelapnya. Itu berarti, Rui benar-benar berada tempat ingatannya berhenti tadi malam: Rumah di Jalan Saninten nomor 16. Rui bangun dan duduk di kasur, memandangi kamar barunya. Tidak ada yang benar-benar istimewa selain rak penuh buku di ujung ruangan dengan puluhan judul yang belum pernah Rui baca sebelumnya. Ada satu judul yang menarik perhatiannya. Heaven (only) for Killers. Aneh, tidak tercantum nama penulis di dalam buku itu. Bersampulkan hitam pekat dengan tulisan tebal berwarna kuning. Seketika, Rui merasa sebuah sensasi asing untuk segera membaca buku tersebut sampai selesai. Ia meraihnya dan membolak-balikkan halaman demi halaman, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak paham apa. Rui mendekati meja kayu kerja berukuran sedang yang terletak persis di depan jendela kaca besar, satu-satunya jalur masuk sinar mentari di kamar. Sesuatu menyadarkannya kembali. Sebuah cangkir keramik berwarna kelabu tua masih berada di atas meja. Sejak semalam. Rentetan ingatan menyerbu kepalanya. Perihal apa yang terjadi sebelum dirinya terlelap.
Rui ingat pintu kamarnya diketuk sesaat setelah dirinya selesai merapikan barang-barangnya. Mbak Mar dengan secangkir minuman hangat berdiri di balik pintu.
“Boleh saya masuk?” tanya Mbak Mar ramah disertai senyuman khasnya.
Rui segera mempersilahkan tanpa menjawab.
“Jadi, bagaimana impresi kamu terhadap kamar ini?” Mbak Mar meraih satu-satunya kursi di kamar itu sementara Rui duduk di atas kasur.
“Impresi?” ulang Rui.
“Sesuai yang ada di kepala kamu?”
“Sejujurnya saya tidak punya ekspektasi apa pun selain tempat untuk tidur dan berteduh.”
“Tidak ada yang lebih tepat daripada tempat ini untuk kamu.”