Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #6

6

Kesendirian adalah pedang bermata dua. Ia bisa membunuh perlahan, ia juga bisa menghidupkan apa yang selama ini dipikir telah mati. Tempat ini seperti mempersilahkan kesendirian masuk dan hadir menghampiri para pelanggannya satu per satu. Seolah memang itu tujuan kedatangan setiap tamu di sini. Walau begitu, kesendirian tidak selalu identik dengan sesuatu yang muram. Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah jendela kaca besar yang menonjolkan pemandangan di luar. Dari situ Shaz menyadari bahwa ia bisa menyaksikan senja terindah yang belum dilihat seumur hidup. Ini kali pertama ia mendapati kilauan jingga semegah itu. 

“Quite pretty, right?” 

“Absolute beauty,” sahut Shaz sembari menengok ke sumber suara. Seorang wanita berperawakan mirip aktris Jepang, Nana Komatsu, sudah berdiri di sampingnya. Dengan apron berwarna olive green, sepertinya ia bekerja sebagai barista kedai kopi ini.

“Orang-orang menyebutnya ‘jendela senja’. I don’t get why people are so obsessed with sunsets?

“Mungkin karena senja itu indah?”

“Sunrises are beautiful too.”

“Sayangnya tidak banyak orang yang rela bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Instead, sunsets feel like the perfect ending to begin the evening.

“I've always seen sunsets as the start of a new day.”

Shaz menoleh tanpa bicara, ia menanti penjelasan lebih lanjut. 

“Karena kehidupan, di mata saya, selalu mulai dari yang gelap, lalu berakhir dengan benderang.”

Lihat selengkapnya