Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #7

7

Jam menunjukkan pukul 11 siang ketika Rui menemukan perpustakaan di paviliun dekat taman belakang rumah Saninten. Jalan menuju perpustakaan sebenarnya tidak sulit diakses, hanya saja alur lorong di dalam rumah cukup rumit. Ada yang berujung buntu, ada yang dikhususkan menuju ke taman samping, juga ada lorong yang seakan tidak berujung. Bukan hanya itu, dalam perjalanannya menemukan letak perpustakaan, Rui tidak sekalipun berpapasan apalagi bertemu dengan seorang penghuni. Setiap sudut rumah justru nampak kosong tak berkehidupan. Mbak Mar juga belum terlihat sejak pagi. Karena ini hari pertama Rui tinggal di sana, ia tak terlalu memikirkannya. Tujuannya kali ini menjelajah perpustakaan yang diceritakan Mbak Mar semalam. 

Begitu tiba di depan pintu, Rui langsung terkesima dengan pintu kayu berwarna merlot dengan bentuk melengkung di bagian atas. Terukir tulisan emas yang dibaca ‘ATELIRE’ tepat di pintu. Perlahan, Rui mendorong pintu dan melangkah masuk. Belum pernah ia menjumpai ruang baca sedamai dan impresif seperti ini. Rak-rak kayu tinggi menjulang dengan semuanya terisi penuh oleh buku-buku dengan beragam warna dan ukuran. Bukan hanya satu atau dua, namun belasan rak buku dari ujung satu ke ujung yang lain. Di bagian kanan terdapat jendela kaca berukuran panjang, yang setengahnya ditutupi tirai gulung berwarna beige. Jendela kaca besar itu dibatasi oleh beberapa partisi kayu yang masing-masing terdapat satu meja dan satu kursi untuk bisa memiliki ruang semi pribadi. Pemandangan yang disajikan di luar jendela pun tidak kalah spektakuler. Rerumputan hijau yang tampak seperti permadani dengan beberapa batuan di sisi tepi taman, sejumlah pohon dengan daun berukuran kecil dan ujung-ujungnya terlihat kuncup bunga putih, kolam sederhana yang suara gemericik air nya menggema di seluruh ruangan. Siluet dedaunan yang dihembus angin pun terpancar di dinding perpustakaan yang serba putih gading. Sinar cahaya matahari pun berebut masuk melalui celah kecil di antara aksen kayu. Istilah yang disebut “komorebi” dalam bahasa Jepang. 

Rui tidak yakin harus memulai dari mana. Pilihan buku di perpustakaan jauh lebih melimpah dibanding yang ditemukannya di kamar. Rasa penasaran terhadap buku “Heaven (only) for Killers” masih mengusik perhatiannya. Rui menyusuri lorong perpustakaan satu per satu. Mulai dari karya Camus, De Beauvoir, Dickens, Hamka, Ionesco, Kafka, Murakami, Nabokov, Proust, Soseki,, Tolkien, Tolstoy, Pramoedya Ananta Toer, Ahmad Tohari sampai Ayu Utami tersebar di seluruh rak. Koleksi di tempat ini tidak main-main, bisa dipastikan judul-judul tersebut dikurasi dengan intens. Rui bukan pembaca aktif, tapi ia mengikuti perkembangan literatur, mulai dari klasik hingga modern. Ia mengenal nama-nama penulis besar sampai yang tidak dikenal pun melalui adiknya. Buku-buku sastra yang pernah dibacanya milik adik perempuannya yang memang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang baca melahap judul demi judul buku. Rui tidak pernah benar-benar tertarik pada dunia penulisan dan literatur sampai pada suatu malam yang tak biasa, ia bermimpi aneh selama empat hari berturut-turut. Di pagi ke lima, Rui yakin bahwa dirinya harus keluar dari rumah dan menjadi seorang penulis. Dan di rumah ini lah dirinya sekarang berada untuk mengejar takdir barunya.

Sepuluh menit sudah dilalui Rui mengitari perpustakaan itu, langkahnya tiba-tiba terhenti kala menyusuri rak terakhir. Buku dengan sampul hitam dan tulisan berwarna kuning. Akhirnya ia menemukannya di sini. Ketika ia berniat meraih buku itu, bunyi lonceng samar-samar terdengar dari dalam bangunan utama.



Lihat selengkapnya