Rui memasuki ruang makan ketika lonceng dibunyikan untuk ketiga kalinya. Jam dinding menunjukkan pukul 12.02. Mbak Mar berdiri di ujung meja makan, dengan lonceng perak di tangan yang kemudian ia simpan di laci. Ia tersenyum menyambut kehadiran Rui. Ada dua orang lainnya yang sedang duduk saling berhadapan. Satu pria dan satu wanita. Ini kali pertama Rui bertemu penghuni selain Mbak Mar.
“Saya pikir kamu lebih kenyang berhadapan dengan buku-buku di Atelire.”
Cara Mbak Mar mengucapkan ‘Atelire’ sungguh khas. Ia seperti mempunyai bahasa ibu lainnya. Hari ini Mbak Mar terlihat tidak kalah menawan dibandingkan tadi malam. Ia memilih kemeja lengan panjang berwarna putih yang menegaskan siluet tubuhnya, dipadu oleh kulot bermotif batik navy blue ukuran tiga perempat.
“Saya ingin menikmati makan bersama pertama kali sebagai penghuni di sini,” Rui memilih kursi di sebelah kanan Mbak Mar. Dengan begitu, ia bisa dengan leluasa mengamati dua penghuni lainnya. Tetapi, sebelum benar-benar selesai meneliti keadaan sekitar, pandangan Rui dibuyarkan oleh santapan yang tersusun rapi di meja makan. Ada tumpukan kotak bento hitam yang ditata simetris. Setiap penghuni dipersilahkan ambil masing-masing satu. Rui meraih satu dan membuka tutup kotaknya. Ia terkesima oleh paduan warna makanan yang dirangkai sedemikian rupa. Kotak bento tersebut terbagi oleh beberapa sekat untuk satu bagian nasi, dua bagian lauk berupa protein, satu untuk sayur atau buah dan sisanya untuk cemilan manis. Siang itu para penghuni disuguhkan nasi putih pulen, salmon asap teriyaki, telur omelet, brokoli tiram, dan mochi isi matcha.
“Silahkan dinikmati,” Mbak Mar membuka kotaknya perlahan. Isinya ternyata sedikit berbeda. Tidak ada salmon dan nasi putih, melainkan lauk seperti pepes tahu yang dipadu nasi hitam.
“Sudah 13 tahun saya berhenti mengkonsumsi daging,” rupanya Mbak Mar jeli membaca mimik wajah Rui. “Saya punya alasan sendiri untuk itu, tapi saya tidak akan memaksa orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Mereka akan melakukannya sendiri kalau sudah waktunya. Bukan begitu, Kai?”
Sosok yang disebut Kai melirik sambil tersenyum simpul. Seorang lelaki berusia kisaran akhir 20 tahun atau awal 30 tahunan. Perawakannya dewasa dan rapi. Pada kesan pertama, lelaki itu terlihat pendiam, meski jauh dari kesan dingin. Tanpa sengaja, matanya beradu pandang dengan Rui. Ia tersenyum seadanya dan kembali memperhatikan kotak hidangan.
“Namanya Kai Praja, kamar nomor 2. Kalian bisa lebih santai berkenalan dan mengobrol setelah makan,” Mbak Mar memperkenalkan seadanya.