“Kak Rui pertama kali tiba di rumah Jalan Saninten nomor 16 jam setengah sepuluh malam saat hujan sedang deras-derasnya.”
“Dari mana kamu bisa dapat informasi sedetail ini?” nada bicara Shaz persis seperti polisi yang sedang menginterogasi seorang tersangka kasus kriminal.
Ara tidak langsung menjawab. Ia ragu-ragu dan mengalihkan pandangannya.
“Maaf, saya tidak bermaksud memaksa. Kalau belum siap untuk diceritakan juga tidak apa-apa.”
“Beberapa bulan sebelum pergi dari rumah, Kak Rui sempat meminjam laptop saya untuk mengerjakan salah satu proyeknya,” Ara perlahan mulai bercerita meski tampak belum sepenuhnya yakin. Shaz sigap mengambil catatan kecil dari tasnya. “Sepertinya waktu itu, Kak Rui lupa untuk keluar dari akunnya. Kak Rui terkesan tergesa-gesa saat itu. Ternyata, sampai hari ini, saya masih punya akses ke cloudnya. Semua data dan dokumen yang dia unggah ke cloud bisa saya akses dengan mudah. Saya tidak pernah menyadari hal itu sampai di hari kak Rui menghilang. Saya mencoba menemukan apa pun yang bisa dijadikan petunjuk. Saat itu lah saya sadar bahwa Kak Rui menulis secara rinci apa yang dialaminya hari demi hari sejak ia tinggal di rumah Saninten 16.”
Rentetan informasi tersebut sangat penting bagi Shaz. Tentang alasan Rui datang ke Saninten 16. Tentang apa saja yang dialaminya di tempat tersebut. Tentang siapa saja orang-orang yang Rui temui di rumah itu.
“Menurut kamu, apa Rui benar-benar tidak tahu bahwa kamu bisa mengakses cloud nya?”
“Sepertinya begitu,” Ara menangkap hal yang janggal dari pertanyaan Shaz. “Memangnya kenapa?”
“Ini masih sebatas spekulasi saya, tapi—apakah ada kemungkinan kalau dia sebenarnya tahu kamu membaca semua tulisannya?”
Ara terdiam, raut mukanya berubah. Shaz menelaah reaksi gadis di hadapannya dengan seksama.
“Jadi menurut Mbak, kak Rui tahu kalau selama ini saya diam-diam mengakses tulisan-tulisannya?”
“Kemungkinan itu selalu ada.”
Ara seperti hilang paham. “Kalau memang faktanya seperti itu, kenapa Kak Rui tetap menulis? Kenapa Kak Rui tidak mengubah kode sandinya? Kenapa Kak Rui tidak menulis di tempat lain?”
“Apa pernah terpikir olehmu kalau tulisan di cloud itu satu-satunya benang merah yang bisa menghubungkan kalian? Saya tidak tahu pasti situasi di dalam rumah, tapi, bagaimana jika sebenarnya tulisan itu adalah kode permintaan tolong dari Rui kepadamu?”
“Permintaan tolong? Apa Kak Rui dalam bahaya?”
“Saya tidak tahu pasti, ini sebatas intuisi saya sebagai wartawan yang bersuara.”