Rutinitas makan di Saninten 16 tidak biasa. Setelah kotak bento hitam disajikan di meja makan, para penghuni dipersilahkan masing-masing untuk menyantapnya di tempat yang mereka kehendaki. Bagi yang ingin makan bersama di meja, ini akan menjadi ajang bagi sesama penghuni untuk saling bersua. Siang itu, hanya ada Lunaya, Kai, Rui, dan Mbak Mar. Mungkin sebagian penghuni memang sudah berangkat dari pagi, atau sedang ingin menikmati kesendirian mereka, entahlah. Setelah selesai makan, Mbak Mar mengambil kotak bento yang masih tersisa dan meletakkannya di depan kamar penghuni masing-masing. Meja makan kemudian dibersihkan untuk persiapan sesi minum kopi.
“Kopi adalah minuman yang cocok diseduh di segala waktu. Kopi tidak butuh konteks,” ujar Mbak Mar saat meletakkan peralatan untuk menyeduh kopi manual brew dengan metode V60. Ia memasukkan paper filter ke dalam dripper, lalu menyiram seluruh filter menggunakan air panas. Dilanjutkan dengan menuangkan air, mulai dari bagian tengah dengan gerakan spiral kecil. Mbak Mar memastikan seluruh bubuk kopi basah, mendiamkannya selama beberapa detik untuk proses blooming, lalu kembali menuang perlahan. Mulai dari tengah, berputar ke luar, dan kembali ke tengah. Rui, Kai dan Lunaya mengamati proses tersebut dengan seksama, seolah mereka harus mengikuti ujian menyeduh kopi setelah ini.
“Berat kopi, kecepatan tangan, jumlah air yang dituang, udara yang masuk, semuanya mempengaruhi rasa kopi yang akan disajikan,” Mbak Mar menghirup kopi dalam dripper, memastikan semua sesuai ekspektasinya. “Bukan berarti rasanya jadi tidak enak, tapi akan berbeda dengan yang diharapkan.” Mbak Mar menuang kopi ke dalam cangkir berwarna putih dengan masing-masing takaran yang sama.
“Seperti apa kopi yang enak itu?” Rui meraih cangkir yang dipersiapkan untuknya.
“Kopi yang membuatmu nyaman ketika diminum.” Mbak Mar lanjut menuangkan cangkir untuk Kai dan Lunaya.
“Saya akan meminumnya kopi di kamar, ada hal yang harus diselesaikan siang ini,” Kai pamit sambil berdiri menuju kamarnya. “Terima kasih, Mbak, atas makan siang dan kopinya.” Meski tidak sampai dua detik, Rui yakin Kai menatapnya tajam sebelum beranjak.
“Saya juga mau menikmati kopi di taman,” kali ini Lunaya ikut berdiri. “Lain waktu kita harus bicara lebih banyak lagi.” Lunaya tersenyum ke arah Rui sebelum menghilang di balik pintu ruang makan.
“Kamu juga mau pergi menikmati kopi ini sendiri?” tanya Mbak Mar.
“Saya di sini saja.” Masih banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Mbak Mar.
“Jadi, apa kamu suka berada di Atelire?”
“Belum pernah saya pernah mengunjungi perpustakaan senyaman Atelire sebelumnya.”