Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #13

13

➤ 13

“Kamu tidak seharusnya berada di sini. Masih ada waktu. Selagi bisa, tinggalkan tempat ini.”

Kai berlalu begitu saja sebelum Rui sempat menuntut penjelasan. Aneh sekali pria itu. Di depan Mbak Mar, ia seolah menyambut hangat kedatangan Rui. Namun ketika mereka hanya tinggal berdua, ia bersikap sebaliknya. Dingin dan tak bersahabat. Ada dua hal yang ditangkap Rui dari ucapan Kai. Pertama, ia tidak berkenan Rui menetap di rumah tersebut. Kedua, seperti ada hal lain di rumah itu yang tidak bisa Kai jelaskan secara gamblang dan ia mencoba memberi peringatan. Rui tidak terlalu memusingkan dua hal itu, karena baginya, saat ini yang terpenting ialah menjelajahi lebih dalam surga barunya, Atelire. Ia sudah berencana akan kembali ke tempat itu seusai makan siang. Dan benar saja, sewaktu Rui mendatangi Atelire untuk kedua kalinya, lebih banyak hal baru yang ia temukan dan menarik segenap perhatian.

Atelire adalah ruang yang bisa menjadi apapun yang dikehendaki masing-masing pengunjung. Tempat itu seperti tanah liat yang mampu menyesuaikan diri dan terbentuk sesuai interpretasi dan intensi setiap orang. Rui kembali ke rak paling ujung, tempat ia sebelumnya menemukan buku Heaven (only) for Killers. Ia meraih buku itu dan mencari tempat nyaman untuk membacanya. Rui menelisik halaman demi halaman. Ia melahap setiap kalimat dengan cekatan seolah tidak ada hari esok. Seperti prasangkanya, buku itu diterbitkan secara independen, oleh sebuah penerbit yang berlokasi di kota S. Tanpa kata pengantar ataupun ulasan tentang penulis. 


Heaven (only) for Killers bercerita tentang sekelompok pemuda yang memiliki dendam terhadap dunia yang dirasa tidak pernah adil, bahkan sejak mereka dilahirkan. Berjumlah lima orang dengan formasi empat pria dan satu wanita. Pemimpin mereka bernama Titan, diambil dari kata titanium, logam yang dikenal karena kekuatan serta ketahanannya terhadap korosi. Nama itu terasa begitu melekat padanya. Seperti titanium yang tak mudah lapuk, ia perlahan menjadi kebal setelah bertahun-tahun ditempa oleh kekejaman takdir sedari usia dini. Para pemuda ini memiliki satu visi, yakni mengadili para pelaku ketidakadilan dengan cara mereka sendiri. Mereka akan mengamati siapa saja yang pantas mati dengan keji. Mayoritas target berasal dari kalangan elite: mereka yang memiliki kuasa, sulit dijerat hukum, dan merasa dapat bertindak sesuka hati tanpa konsekuensi.

Apa kalian pernah dengar, seseorang yang akan menemui ajal akan mendapat firasat 40 hari sebelumnya? Secara ilmiah, tidak ada bukti pasti bahwa firasat perihal kematian tersebut akurat. Namun, bagi kelompok ini, mereka akan mengawasi sasaran mereka sejak 40 hari sebelum waktu eksekusi. Mereka ada dalam setiap langkah target, mengintai di balik bayangan, dan mengamati gerak-gerik sekecil apa pun itu. Kelompok ini meyakini bahwa kehadiran mereka dibutuhkan di muka bumi, untuk membela para golongan yang tak berdaya. Mereka membunuh orang-orang yang semestinya tak ada. Membasmi akar kerusakan dan ketidakadilan. Kelompok tersebut juga percaya bahwa ada surga yang memang diciptakan khusus untuk para pembunuh seperti mereka. Surga yang hanya diperuntukkan untuk para pencabut nyawa dengan tugas mulia.


“Baru kali ini saya melihat buku itu,” suara Aster membuyarkan konsentrasi Rui. Ia bahkan tidak sadar kapan wanita itu masuk dan berjalan mendekatinya. Rui reflek menengok dan Aster sedang tersenyum ramah memandangnya. “Selama saya tinggal di sini, baru kali ini saya melihat buku yang sedang kamu baca,” Aster menjelaskan kembali.

“Buku di sini terlalu banyak untuk diingat satu per satu.” Rui menutup buku dan menunda membaca akhir cerita.

“Tadi kita belum sempat berkenalan secara resmi. Saya Aster. Dalam bahasa bunga, artinya kesabaran dan cinta yang tulus. Meskipun saya ragu bahwa saya bisa sesabar dan setulus itu. Ah, dan kamu Rui, saya tahu, tidak perlu memperkenalkan diri lagi.”

Lihat selengkapnya