➤ 14
“Tidak seharusnya saya membiarkan Kak Rui pergi dari rumah pagi itu.”
“Dia pergi atas kemauannya sendiri,” Shaz menangkap kegelisahan di balik sorot mata lawan bicaranya. Ara mungkin tampak seperti gadis lugu berusia awal dua puluhan, tetapi sejak tadi, wajahnya memantulkan beragam spektrum emosi. Dari sorot matanya, gerak-gerik kecilnya, hingga jeda dalam setiap ucapannya, Shaz bisa merasa ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam diri gadis itu.
“Dalam tulisannya, Kak Rui bilang bahwa rumah itu bisa mendengar dan membunuh.”
“Rumah Saninten 16?”
Ara menggangguk pelan. Sekarang ia terlihat was-was, seolah ada sosok yang tidak berhenti mengintai gerak-geriknya.
“Kamu percaya?”
“Entahlah. Kalau dipikir-pikir, sangat tidak masuk akal.”
“Maaf kalau terdengar kasar, tapi itu adalah pernyataan terkonyol yang pernah saya dengar.”
Ara terdiam lagi.
“Di dalam tulisan kakakmu, apa ada korban yang ditemukan?”
“Awalnya saya juga pikir semua yang ditulis kak Rui mengada-ngada,” Ara meraih sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku kecil berwarna biru tua. “Tapi, bagaimana kalau yang bisa membunuh bukan rumah Saninten 16, melainkan orang-orang di dalamnya?”
“Orang-orang? Lebih dari satu pelaku?” Shaz menunggu Ara membuka isi bukunya. “Jadi benar-benar ditemukan korban?”