Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #15

15

➤ 15

Ini adalah malam terpanjang Rui. Sudah berkali-kali ia mencoba memejamkan mata tapi kepalanya sulit sekali diajak kompromi. Semenjak membaca halaman terakhir buku “Heaven (only) for Killers”, kepalanya tidak henti-hentinya berdenyut. Biasanya, ketika kesulitan tidur, Rui hanya perlu membuat sebuah cerita dalam kepalanya, membayangkan kalimat pertama dan memikirkan akhir yang sempurna. Namun kali ini, seluruh plot cerita yang baru ia baca, melahap habis kisah-kisah baru yang biasanya dengan mudah diciptakan imajinasinya. Rui membuka mata dan mengamati langit-langit kamar yang gelap gulita. Ia membayangkan sedang menatap bintang-bintang dan menghitung jumlahnya satu per satu. Lagi-lagi, rasa kantuk enggan membersamainya. Akhir kisah para kelompok pemuda tersebut berhasil mengalihkan konsentrasinya. Cerita berujung pada kesimpulan yang mencengangkan. Kelima anggota kelompok pembunuh tersebut bersepakat untuk saling mengakhiri hidup. Mereka percaya kematian bukanlah akhir, melainkan jalan menuju sebuah surga yang mereka ciptakan sendiri. Ttempat di mana mereka berjanji akan bertemu kembali. Benarkah surga bagi para pendosa seperti mereka benar-benar ada? Tidak ada yang tahu. Narasi disudahi dengan kalimat, “Ada surga yang tidak akan pernah kalian pahami.”

Setiap kali memejamkan mata, Rui selalu membayangkan kelompok itu berdiri membentuk lingkaran. Masing-masing mengarahkan moncong senapan ke pelipis orang di sebelahnya. Lalu, mereka menghitung mundur bersama, menunggu saat yang tepat untuk menarik pelatuk secara serempak.

Lima... empat... tiga... dua... satu...DOR!

Yang paling mengerikan bukanlah suara tembakannya, melainkan kemungkinan ada satu atau dua orang yang terlambat sepersekian detik. Mereka mungkin akan menyaksikan rekan-rekannya roboh lebih dulu, dengan darah menyembur dari kepala, sebelum akhirnya giliran mereka tiba. Entah mengapa, dalam setiap khayalannya, Titan selalu menjadi orang terakhir yang masih hidup.

Dentang jam dinding dari ruang tamu menggema dua belas kali, menandakan hari telah berganti. Frustasi karena pikirannya semakin riuh dan tak kunjung membiarkannya beristirahat, Rui akhirnya bangkit menuju dapur untuk membuat segelas susu hangat. Konon, minuman itu mampu mengundang kantuk kembali. Rui menyingkirkan selimutnya, lalu beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Lorong di depan tampak kelam pekat. Beruntung, ia masih hafal jalan menuju dapur. Rui melangkah perlahan, berhati-hati agar lantai tidak berderit dan membangunkan siapa pun. Saat hendak menuruni tangga, Rui menyadari seseorang sedang berdiri di beranda yang menghadap taman. Sosok itu mematung dengan tatapan lurus ke depan, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di sela jemarinya terselip sebatang rokok yang masih menyala. Ia menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan hingga melebur dengan udara malam. Balutan gaun tidur satin berwarna putih tulang membuatnya tampak anggun tanpa perlu berusaha. Bahkan dalam kesederhanaan momen itu, ada pesona yang sulit diabaikan. Dari siluetnya saja, Rui langsung tahu bahwa sosok itu adalah Mbak Mar.

Lihat selengkapnya