➤ 16
“There's something off…about her sister.”
Shaz memperhatikan rokok di tangan Iori. Tidak ada bekas lipstik di sana meskipun bibir Iori tampak merekah. Segudang pertanyaan memenuhi benak Shaz, terpaku pada puntung rokok di sela jemari Iori—merek yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Dari mana kau tahu itu kakak perempuannya?” Shaz mengalihkan perhatiannya pada lawan bicaranya.
“I just know…”
“You just know?”
“Mereka punya sorot mata yang sama persis.”
“Dan di dunia yang luas dan besar ini, hanya mereka yang memiliki sorot seperti itu?”
“I met tons of people until today. Trust me, I know.”
“And you remember the way every single one of them looked at you?”
“Probably. You know, I just—know.”
“Intuisi.”
“Yeah,” Iori mengangguk. “Let's call it that way.”
“Apa yang aneh dengan kakak perempuannya?”
“Semuanya,” Iori menghisap rokoknya dalam-dalam. “Semuanya seperti tidak pada tempatnya.”
“Apa dia berperilaku aneh?” Shaz meraih buku catatan kecil di sakunya. “Bagaimana kalian bisa bertemu?”
“She’s been here once. I don’t remember the exact date, but it was long before the house burned.”