Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #17

17

➤ 17

Malam hari di Rumah Saninten 16 akhirnya tiba. Rui sudah menantinya seharian. Bayangan Mbak Mar yang berdiri di beranda malam sebelumnya terus menghantuinya. Berbalut gaun tidur, mengisap rokok dengan tenang, seolah dinginnya malam tak tega menyentuhnya. Ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Dan malam ini, ia berniat menemukan jawabannya. Dentang jam bergema dua belas kali, menandai tepat tengah malam. Setelah menyelesaikan beberapa halaman tulisannya di laptop, Rui menutup layar. Ia bangkit dari kursi, lalu melangkah keluar kamar. Lorong rumah masih sama seperti semalam. Cahaya lampu yang redup membuat dinding-dinding tua tampak memanjang ke dalam kegelapan, seolah lorong itu tak pernah benar-benar berujung. Setiap langkah Rui terdengar jelas di antara kesunyian. Ia berjalan menuju ruang makan. Lampunya masih menyala. Di sana, seseorang duduk membungkuk di meja makan, terlihat larut dalam tulisan di hadapannya. Rui tidak langsung menyapa. Dari ambang pintu, ia memilih mengamati pria itu dalam diam selama beberapa saat.


“Sampai kapan kamu akan berdiri diam di situ?”

Suara itu membuat Rui tersentak. Seketika ia merasa seperti penguntit yang baru saja tertangkap basah.

“Maaf... saya tidak bermaksud mengganggu.”

Pria itu meletakkan penanya, lalu menoleh perlahan. “Kamu tidak mau mengganggu saya, atau justru tidak mau terganggu oleh saya?”

Rui memilih diam. Ia melangkah mendekat. “Sebelumnya, perkenalkan. Nama saya Rui. Penghuni baru di sini.”

Pria itu mengamatinya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Oh... jadi kamu si penghuni baru.”

“Ya,” jawab Rui sambil mengangguk. “Kamar nomor tujuh.”

“Angka tujuh...” gumam pria itu. “Itu angka keberuntungan saya. Sayangnya, kamar itu tidak memilih saya.” Ia memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengenang sesuatu yang hanya ia pahami sendiri. Beberapa detik kemudian matanya terbuka kembali, dan senyumnya melebar.

“Kamu seperti udara segar di rumah ini.”

Rui mengernyit. “Maksudnya?”

“Saya Giong Bedes.” Ia mengulurkan tangan tanpa menjawab pertanyaan Rui. “Penghuni kamar nomor empat.”

“Giong Bad-ass?

“Be-des. Giong Be-des.”

Lihat selengkapnya