Ara benar-benar menghilang. Shaz dan Iori hanya meninggalkannya beberapa menit. Namun saat mereka kembali, kursi yang tadi ditempati Ara sudah kosong. Di atas meja hanya tersisa sebuah gelas yang telah tandas, sekaleng soda dan seiris lemon yang mulai mengering. Shaz memandang kursi kosong itu cukup lama.
Apa Ara berubah pikiran? Atau ia justru mulai meragukan niatnya sendiri sehingga memilih pergi tanpa pamit?
Masih banyak hal yang ingin Shaz tanyakan. Terlalu banyak bagian dari teka-teki Rumah Saninten 16 yang belum tersusun utuh. Dan kini, satu-satunya orang yang mungkin bisa melengkapinya justru menghilang begitu saja.
“Kita kehilangan dia.”
“Not entirely,” Iori berucap tenang.
“Maksudmu?”
“We may find some clues here,” Iori membungkuk dan memungut sebuah buku kecil bersampul biru yang tergeletak terbuka di bawah meja.
“Buku catatan tentang apa saja yang dialami Rui selama di Rumah Saninten 16.”
“Then we still have a chance.” Iori memberikan buku tersebut pada Shaz.
“Ia sepertinya pergi terburu-buru sampai meninggalkan barang sepenting ini.”
“Maybe she had an emergency.”
“Lebih penting daripada hilangnya kakak perempuannya? Apapun itu, aku yakin pasti masih berhubungan dengan Rui.”
“I said ‘maybe’.”
“Apa saja yang kamu ketahui tentang Ara?”
“Is this an interrogation?” Iori mengangkat sebelah alis.