➤ 19
“Kamu baik-baik saja?” Suara itu terdengar samar, seolah datang dari tempat yang jauh.
Rui belum sepenuhnya membuka mata, tetapi ia dapat mengenali siluet wanita yang berdiri di hadapannya. Mbak Mar menatapnya lekat. Kekhawatiran, kecemasan, dan kebingungan bercampur menjadi satu, memantul jelas dari kedua matanya.
“Rui, kamu bisa dengar saya?”
Suara Mbak Mar terdengar lebih tegas kali ini, menunggu reaksi Rui.
Rui belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Tubuhnya tak berdaya dan terasa asing, seakan bukan lagi miliknya. Ia berusaha menggerakkan jemari, lalu perlahan membuka mata lebih lebar. Ia sedang terbaring di depan pintu kamarnya. Kepalanya berat. Seluruh badannya lemas seperti tenaganya telah terkuras habis. Cahaya pagi yang menyelinap di sela-sela kelopak matanya justru membuat denyutan di kepalanya semakin menjadi.
“Iya...” jawab Rui lirih. “Apa yang terjadi?”
“Saya menemukan kamu sudah tergeletak di depan kamar pagi ini. Kamu pingsan.”
“Pingsan?”
Mbak Mar mengangguk. “Apa yang kamu rasakan sekarang? Pusing? Atau mual?”
Rui mencoba menarik napas panjang, “Tubuh saya... lemas.”
Mbak Mar merangkul bahu Rui dan membantunya berdiri. Langkah Rui goyah, nyaris kehilangan keseimbangan beberapa kali sebelum akhirnya berhasil masuk ke dalam kamar. Begitu mencapai ranjang, ia segera menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
“Kamu istirahat dulu,” kata Mbak Mar lembut. “Saya akan segera kembali.”
Pintu kamar menutup pelan. Rui memandangi langit-langit yang polos. Entah mengapa, kehadiran Mbak Mar selalu menyisipikan rasa tenang yang sulit dijelaskan. Hangat, tanpa banyak kata.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Ingatannya mulai bergerak mundur, mencoba menyusun kembali kejadian semalam. Beranda. Mbak Mar yang berdiri sendirian. Ruang makan. Lalu... Giong Bedes. Rui memejamkan mata. Ia ingat mereka sempat berbincang hingga larut. Tentang Rumah Saninten 16. Tentang rumah yang, menurut Giong, mampu mendengar hasrat paling tersembunyi dari setiap penghuninya. Rumah yang akan mengabulkan keinginan, betapa pun gelapnya. Bahkan... melenyapkan seseorang. Lalu kalimat terakhir itu kembali terngiang.