➤ 20
(L’homme de nulle part #1)
Aku pertama kali bertemu dengannya pada bulan April tahun 20XX, saat berlibur ke Tokyo untuk menghadiri pameran tunggal sahabat baikku. Musim semi baru saja dimulai. Aku tak sabar menyaksikan deretan pohon sakura yang menerbangkan kelopak-kelopak merah muda setiap kali angin bertiup. Pameran sahabatku berlangsung selama dua bulan penuh, tetapi aku hanya berencana tinggal di Jepang selama tiga minggu. Seandainya aku bekerja sebagai karyawan kantoran, mungkin seluruh jatah cutiku sudah habis untuk perjalanan ini. Untungnya, pekerjaanku cukup fleksibel sehingga aku bisa bekerja dari mana saja.
Dia—atau, seperti kemudian kupanggil, Beliau—datang sebagai salah seorang pengunjung pameran. Awalnya kukira ia tamu undangan. Cara berpakaian, pembawaannya yang tenang, dan sorot matanya memberi kesan bahwa ia bukan orang biasa.
“Apakah menjadi penulis itu pekerjaan yang kesepian?”
Aku sempat menoleh ke belakang. Kukira ia sedang berbicara kepada orang lain. Namun di depan lukisan berjudul L'Homme de Nulle Part itu, hanya ada kami berdua.
“Anda bicara dengan saya?”
“Ya,” Ia tersenyum ramah. “Hanya ada satu penulis di antara kita berdua bukan?”
“Dari mana Anda tahu saya seorang penulis?”
“Penulis punya cara sendiri menikmati karya seni.” Ia melangkah mendekat, lalu menunjuk buklet pameran yang sedang kupegang. “Selain itu... foto Anda ada di sini.”