Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #21

21

➤ 21

Pagi itu Rui berhasil menyelesaikan sepuluh halaman pertama naskahnya. Itu merupakan pencapaian terbaiknya sejak tinggal di Rumah Saninten 16. Meski beberapa hari terakhir dipenuhi kejadian-kejadian ganjil, anehnya, justru semua itu memberinya banyak inspirasi. Sejak pagi ia menghabiskan hampir lima jam di Atelire, berpindah-pindah sudut hingga menemukan tempat yang paling nyaman untuk menulis. Sesekali ia berhenti untuk membuka buku-buku referensi yang dikumpulkannya. Di antara semuanya, ada satu buku yang tak pernah jauh dari sisinya. Heaven (only) for Killers. Rui membawanya ke mana pun ia pergi. Entah mengapa, setiap kali buku itu berada di dekatnya, kata-kata mengalir jauh lebih mudah. Seolah ada energi yang tak kasatmata merembes keluar dari setiap halamannya. Ia mulai bertanya-tanya. Siapa sebenarnya penulis buku itu?

“Kita bertemu lagi.” Suara itu muncul dari balik rak buku. Aster melangkah mendekat sambil membawa secangkir kopi dan sebuah roman bersampul jingga kemerahan.

“Maaf,” katanya sambil mengangkat cangkirnya sedikit. “Hari ini kopi saya cuma cukup untuk satu orang.”

Rui tersenyum. Selain Mbak Mar, Aster adalah teman bicara yang paling ia nantikan. Menyenangkan sekaligus membingungkan.

“Nampaknya Anda selalu berhasil menemukan tempat yang tepat untuk menikmati kopi.” Rui menutup laptopnya, merapikan buku-buku di meja, lalu berjalan menghampiri Aster.

“Setiap pagi saya bangun dengan satu pertanyaan,” Aster tersenyum. “Kopi apa yang akan saya minum hari ini? Di mana tempat terbaik untuk menikmatinya?” Ia memandang cangkir di tangannya. “Menyenangkan punya alasan sesederhana itu untuk menjalani hari.” 

“Hmm…sesekali coba Anda menjalani hari yang tidak tahu akan membawa kita ke mana.”

“Ya, ide menarik. Terbangun tanpa memikirkan kopi.”

Rui dan Aster sama-sama tersenyum. 

“Jadi, bagaimana kesanmu tinggal di sini? Kau menyukainya?”

“Mungkin suka bukan kata yang tepat.” Rui mencoba mencari diksi yang mewakili perasaannya. “Lebih cocok dikatakan…bersemangat untuk menghadapi segala ketidakpastian di rumah ini.”

Aster tertawa lebih keras kali ini. “Itu jawaban yang bagus.” Ia menyesap kopi terakhirnya. “Kamu tidak merasa rumah ini aneh?”

“Saya rasa... tidak ada satu pun yang 'tidak aneh' di rumah ini.”

“Termasuk penghuninya,” tambah Aster.

“Termasuk kita.”

“Benar.”

Lihat selengkapnya