Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #22

22

➤ 22

(L’homme de nulle part #2)

Beliau tidak pernah menghubungiku lagi. Hingga suatu pagi yang cerah, setahun kemudian, sebuah email darinya muncul di kotak masuk. Ia menulis bahwa dirinya akan datang untuk urusan pekerjaan. Sebelum kembali ke Osaka, ia memiliki waktu luang sekitar tiga hari. Aku menatap layar cukup lama. Aku bahkan tidak tahu harus membalas apa. Setahun berlalu tanpa kabar, lalu tiba-tiba Beliau muncul kembali seolah kami baru saja berpisah kemarin sore. Aku sempat berpikir untuk mengabaikannya. Namun sebelum sempat mengambil keputusan, email kedua kembali masuk. Kali ini isinya jauh lebih panjang. Beliau melampirkan daftar tempat yang ingin dikunjunginya, lengkap dengan rute perjalanan yang disusun begitu rinci. Sulit untuk tidak berasumsi bahwa semua rencana itu dibuat dengan harapan aku akan menemaninya. Aku sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan hubungan kami yang tak memiliki nama atau bentuk. Yang justru membuatku bertanya-tanya adalah cara Beliau memperlakukanku. Cukup untuk membuat seseorang salah mengartikan semuanya. Aku membalas email Beliau untuk mengiyakan. Kurang dari lima menit kemudian, balasan darinya datang. Hanya sebuah foto yang menampilkan dirinya di depan Gunung Fuji. Aku membalasnya dengan foto lanskap yang kuambil enam bulan sebelumnya di Annecy. Setelah itu, tak ada lagi email darinya. 

Sampai akhirnya kami benar-benar bertemu. Dan seperti setahun sebelumnya, tiga hari itu terasa berlalu cepat. Ia kembali mengenalkanku pada tempat-tempat menarik. Bersamanya selalu ada cerita baru. Tentang Osaka, Kyoto, Sapporo, dan kota-kota lain yang baru saja ia tinggalkan. Mendengarkannya berbicara selalu terasa seperti membaca sebuah buku yang merangkum kisah-kisah dari berbagai penjuru dunia. Suatu ketika Beliau tidak sengaja memperlihatkan beberapa foto di ponselnya. Tanpa sengaja pandanganku jatuh pada wallpaper nya. Foto Annecy hasil jepretanku. Beliau tidak mengatakan apa-apa. Aku pun sama. Namun aku yakin ia tahu bahwa aku sempat melihatnya.

Pekerjaan Beliau selalu menjadi pertanyaan terbesarku. Ia terus berpindah dari satu negara ke negara lain, selalu berpakaian casual, seolah tak pernah benar-benar menetap di mana pun. Mungkin seorang pengusaha, mungkin trader atau investor. Atau bahkan pekerjaan yang sama sekali tidak pernah terpikir olehku. Rasa penasaranku sebenarnya besar. Namun semakin banyak yang kuketahui tentang dirinya, semakin sedikit ruang bagi kejutan-kejutan baru. Jadi aku memilih tetap menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa.

“Jam tanganmu bagus.”

Ia mengatakannya ketika kami sedang duduk di taman sambil menikmati salmon onigiri.

“Benarkah? Aku justru memakainya karena terpaksa. Aku lebih suka model jam seperti punyamu.”

“Mau bertukar?”

Lihat selengkapnya