Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #23

23

➤ 23

Ini pertama kalinya Rui keluar dari Rumah Saninten 16 sejak menetap di sana. Ia hendak membeli beberapa kebutuhan di supermarket sekaligus menghirup udara di luar rumah. Anehnya, ia sama sekali tidak merasa jenuh tinggal di Rumah Saninten 16. Justru sebaliknya. Rui memperoleh banyak inspirasi untuk tulisannya. Selama Atelire masih ada, Rui rasa ia akan terus menulis sampai mati. 

Rui memasuki swalayan dan memutari area sayuran. Saat itulah ia mulai merasa ada yang mengawasinya. Entah siapa, tapi sosok itu seperti lebih tinggi darinya. Rui mencoba mengubah arah jalannya untuk memastikan apakah dirinya benar-benar diikuti. Ia memperlambat langkah, lantas berbelok ke lorong lain. Perasaan itu tidak hilang. Ia menoleh cepat ke belakang, tidak ada siapa pun. Hanya beberapa pelanggan yang sibuk memilih barang belanjaan. Mungkin hanya perasaannya saja. Namun untuk pertama kalinya, Rui merasa tidak benar-benar aman berada di antara manusia lainnya.

Seusai belanja, Rui memutuskan untuk menghabiskan beberapa waktu di café untuk sekedar menikmati secangkir kopi dan menulis beberapa paragraf naskahnya. Café Noir di ujung jalan yang menyajikan suasana tenang dan nyaman menjadi pilihan terbaiknya. Begitu membuka pintu, aroma kopi yang baru digiling langsung menyambutnya. Matanya menyapu seluruh ruangan. Meja dekat jendela masih kosong. Terang, tenang, sempurna. Rui memesan segelas magic dan sepotong financier, lalu menuju meja pilihannya. Baru saja ia mengeluarkan laptop dari dalam tas, seseorang menarik kursi di hadapannya.

Kai Praja. Penghuni kamar nomor 2 di Rumah Saninten 16.

Rui begitu terkejut dengan kehadiran pria tersebut. “Sedang apa kau di sini??”

“Minum kopi.”

Rui melirik ke setiap sudut kedai, “Masih banyak meja kosong, selain di mejaku.”

“Aku tahu.”

“Apa aku memperbolehkanmu duduk di sini?”

“Apa kamu memperbolehkanku duduk di sini?”

“Kalau aku bilang tidak, kamu akan pergi?”

Lihat selengkapnya