➤ 25
“Aku merasa kebaikan yang ditawarkan Mbak Mar terlalu berlebihan,” suara Kai terdengar begitu berat.
“Hmm..” Rui menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku paham maksudmu.”
“Kalau dipikir-pikir, orang waras mana yang mau menerima tamu asing tinggal semaunya di rumahnya, tanpa perlu membayar sepeser pun. Bahkan dia melayani—mungkin lebih tepatnya memperlakukan semua tamunya dengan sepenuh hati.”
“Jadi kamu berpikir bahwa Mbak Mar mempunyai tujuan lain menerima kita semua di rumah itu?”
Kai mengiyakan tanpa kata. Sorot matanya penuh kecurigaan.
“Kamu kenal dengan penghuni bernama Pak Atmadja?”
“Ya, penghuni kamar nomor satu.”
“Benarkah dia menghilang?”
Kai sekilas tampak heran. Mungkin dia mempertanyakan dari mana Rui memperoleh informasi tersebut.
“Memang sudah lama aku tidak melihatnya.”
“Dia pergi?”
“Kamarnya tidak pernah dirapikan Mbak Mar. Lagipula, jatah kotak makannya juga masih ada.”
Sama seperti Aster, ternyata Kai juga memperhatikan detail-detail tersebut.
“Menurutmu Pak Atmadja masih hidup?”
“Entahlah,” Kai membenarkan posisi duduknya. “Aku tidak punya waktu untuk menyelidikinya.”
“Kalau begitu, apa saja informasi yang bisa kamu berikan padaku terkait Rumah Saninten 16?”
“Sepertinya…setiap penghuni yang datang menginginkan kematian seseorang.”