Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #27

27

➤ 27

(L’homme de nulle part #4)

“Aku mau menjual murah rumah mendiang Ibuku. Kamu berminat?” 

Rekan kerjaku tiba-tiba menelpon di Minggu pagi selagi aku hendak menyantap sarapan. Satu lembar roti panggang, dua telur mata sapi setengah matang beserta secangkir long black sudah tersaji rapi di meja makan ketika ponselku ku mendadak berdering. Aku berniat mengabaikannya. Lagipula siapa yang rela menelpon di hari Minggu pagi yang cerah dan tenang. Namun si penelpon ternyata tidak menyerah. Setelah nada dering berhenti dua kali, ia masih berusaha. Aku pikir mungkin ada hal darurat yang ku atasi. Aku akhirnya mengangkatnya. Ternyata K, rekan kerjaku di kantor redaksi. Tidak biasanya dia menghubungi via telepon. Seingatku, dia hanya menulis pesan tertulis dan hubungan kami memang tidak sedekat itu untuk saling bertukar sapa melalui telepon. Aku merasa ada yang janggal. Percakapan itu berlangsung tidak lebih dari sepuluh menit, namun kopiku sudah dingin ketika telepon ditutup. K menghubungiku untuk menawarkan rumah Ibu nya yang beberapa bulan lalu meninggal. Sejujurnya aku heran kenapa aku yang dihubunginya. Mungkin aku berada di urutan ke sekian, tapi tetap saja, pertanyaan tersebut hinggap di kepalaku. Anehnya, aku tidak langsung menolak. Aku mengatakan akan memikirkannya beberapa hari. Padahal aku sama sekali tidak sedang mencari rumah.


Rumah mendiang Ibu K berada di kawasan yang tenang, tidak jauh dari pusat kota. Udara di sekitarnya masih sejuk karena dinaungi pepohonan tua. Lingkungannya asri. Dengan rumah seluas itu, harga yang ditawarkan sebenarnya tidak masuk akal, jauh di bawah pasaran. Kalau saja aku tidak mengenal K dan tidak tahu bahwa dia dan keluarganya memang sedang mengalami kesulitan finansial semenjak Ibunya meninggal, penawaran menggiurkan itu patut dicurigai. K pernah mengajak rekan-rekan kerja untuk berkunjung ke rumah itu, aku tidak ingat pasti dalam rangka apa. Aku jatuh hati pada rumah itu sejak pertama kali melihatnya. Nuansa etnik yang sederhana. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendelanya. Keheningan yang terasa hidup. Saat itu aku sempat berpikir, “Suatu hari nanti, ketika pensiun, aku ingin tinggal di rumah seperti ini”. Hidup berkesadaran menikmati waktu yang berjalan lambat. Konon, rumah memilih penghuninya. Kalimat itu mengingatkanku kepada Beliau.


Tepat malamnya, email dari Beliau masuk. Kala itu bulan Desember, belum memasuki musim semi dan baru tujuh bulan setelah terakhir kali mereka bertemu. Ada yang tidak biasa dari surel Beliau. Ia mengajak bertemu besok di sebuah kedai kopi karena ada hal yang ingin dibicarakan. Beliau menawarkan menjemputku di rumah, tetapi aku menolak. Aku tidak ingin memberinya kesempatan untuk kembali menumbuhkan harapan yang sudah susah payah ku padamkan. Entah apa yang ingin disampaikannya, yang terpikir olehku adalah menawarkan Beliau untuk membeli rumah mendiang Ibu K.

Keesokan hari, sesuai jam yang ditentukan, Beliau sudah lebih dulu menungguku. Aku meminta maaf karena datang terlambat dan membuatnya menunggu. Beliau sekedar tersenyum. Senyum yang selama ini selalu berhasil membuatku lupa pada segala hal. Aku melirik ke tangannya, Beliau masih mengenakan jam tanganku. 

“Setiap kali bertemu,” katanya, “..kamu selalu terlihat semakin bersinar.”

Aku tersenyum tipis, “Kali ini kamu datang dari mana? Biasanya kamu muncul bulan April.”

“Aku baru kembali dari Cape Town tiga hari yang lalu.”

“Afrika Selatan?”

Beliau mengangguk.

“Dalam rangka apa ke sini?”

“Aku bertemu seseorang di sana.”

Lihat selengkapnya