Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #28

28

➤ 28

Bunyi lonceng terdengar tiga kali. Seperti biasa, seluruh penghuni yang sedang berada di rumah mulai menuju ruang makan. Jam menunjukkan tepat pukul tujuh malam. Mbak Mar berdiri di ujung meja dengan atasan bermotif garis-garis berwarna taupe dipadu dengan celana kain hitam. Paduan tersebut semakin menegaskan tubuhnya yang jenjang dan semampai. Rambutnya ditata seperti biasa—rapi tanpa terlihat berusaha. Effortlessly chic, begitu orang-orang mungkin menyebutnya. Ketika Rui memasuki ruangan, Aster sudah duduk di tempatnya. Kai menyusul beberapa saat kemudian. Lalu Rui mengambil kursinya. Giong Bedes datang paling terakhir. Mereka menempati tempat masing-masing dan mulai membuka kotak makan yang telah disediakan. Menu hari ini masih saja mengesankan seperti hari-hari sebelumnya. Nasi daun jeruk, ayam panggang bumbu rempah, tuna tartare sambal matah, sayur asam seafood dan sepotong kue beraroma pandan dengan irisan nangka kecil di atasnya. Kudapan manis itu mengingatkan Rui pada es teler, minuman favorit adik perempuannya. Makanan penutup di Rumah Saninten 16 sepertinya tidak pernah dibuat sekadarnya: panna cotta gula aren, pudding matcha dengan siraman vanilla custard, brownies coklat dengan colis yuzu, gelato klepon durian, mousse cappuccino, éclair taro sampai gluten free tart tatin. Ajaibnya, semua itu disiapkan sendiri oleh Mbak Mar. “Aku hanya percaya pada makanan yang dibuat oleh tanganku sendiri,” ucap Mbak Mar pada suatu waktu.


“Akhirnya kita semua bisa makan bersama,” Mbak Mar menatap para penghuni satu per satu dengan senyuman di bibirnya yang khas.

“Jadi kita hanya berlima di rumah ini?” Rui baru tahu bahwa ternyata tidak semua kamar terisi.

“Untuk sementara, iya.” sahut Mbak Mbar sembari membuka kotak makannya. Isinya jauh lebih sederhana dibandingkan makanan para penghuni: macaroni panggang dengan campuran krim jamur dan brokoli, satu telur rebus, parutan wortel dengan minyak zaitun, serta beberapa buah blueberry beku bercampur plain yogurt

“Sudah berapa malam tidak tidur, Giong? Kamu tampak kacau,” Aster melirik Giong sebelum menyuap sendok ke mulutnya.

Show-ku tinggal menghitung hari. Aku tidak punya waktu untuk bersantai-santai. Sleep is for the weak!” 

Giong Bedes memang terlihat berantakan. Berbeda dengan kali terakhir, ia tidak banyak bicara. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, rambutnya seperti belum tersentuh air berhari-hari, dan pakaian dikenakan tanpa banyak pertimbangan.

“Apa judul pertunjukanmu kali ini?” tanya Mbak Mar.

Lihat selengkapnya