Malam hadir kembali. Seperti malam-malam sebelumnya, Rui mengulang kebiasaannya mengamati Mbak Mar yang berdiri dalam diam di beranda rumah. Namun malam ini berbeda. Rui tidak lagi mengamati dari balik jendela. Ia benar-benar berada di beranda, berdiri beberapa langkah dari Mbak Mar, seolah ingin turut bergabung dalam rutinitas malam wanita itu.
“Saya pikir kamu akan mengamati saya lagi dari jendela malam ini,” Suara Mbak Mar dari belakang membuat Rui tersentak. Ternyata selama ini ia tahu.
“Maaf Mbak, saya tidak berniat—”
“Sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan,” Mbak Mar mengucapkannya sambil tersenyum. Entah karena angin malam yang terasa kelewat sejuk atau karena pakaian yang dikenakannya terlalu tipis, tubuh Rui sempat merinding. Mbak Mar mengenakan gaun tidur berbahan satin berwarna coconut milk. Cahaya bulan yang benderang menembus kain tipis itu dan sekilas menampilkan siluet tato berbentuk ombak di dada sebelah kirinya.
“Apa kamu keberatan kalau saya merokok?”
“Silahkan, Mbak. Saya sudah terbiasa dengan asap rokok sejak kecil.”
“Orang tuamu perokok?”
Rui mengangguk sambil terus memperhatikan bentuk rokok di antara jemari Mbak Mar.
“Ini edisi spesial. Tidak dijual di mana pun.” Seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Rui, ia menambahkan, “Mau coba?”
Rui ragu. Dalam situasi normal, tentu ia akan langsung menolak tawaran itu. Rui selalu membenci rokok karena itu mengingatkan pada banyak hal kelam di masa lalu. Ditambah lagi adiknya mengidap asma, membuatnya sangat sensitif terhadap aroma nikotin. Tetapi malam itu…Rui sedang tidak ingin menjadi dirinya sendiri. Ia ingin membebaskan diri. Sekali saja, entah dari apa.
“Terima kasih,” Rui mengambil rokok tersebut. Mbak Mar menyalakan pemantik dan membakar rokok masing-masing. Rui belum pernah menghisap rokok sebelumnya. Namun malam itu, ia merasa seakan sudah terbiasa melakukannya. Asap memenuhi rongga mulutnya. Tidak ada rasa asing. Seolah dirinya dan sigaret itu adalah satu kesatuan yang sudah lama saling mengenal.
“Aku baru tahu kamu merokok,” ucap Mbak Mar.
“Ini kali pertama,” jawab Rui di antara hembusan asap yang keluar dari mulutnya.