➤ 31
“So, the man she loved died.”
“I guess… she finally built the house he once dreamed of. To honor his memory.”
Shaz dan Iori terdiam. Masing-masing dari mereka sedang membayangkan apa saja yang telah dilalui Mbak Mar seorang diri. Bahasa cinta Mbak Mar bisa jadi memang sesederhana caranya melayani orang yang ia cintai dengan sepenuh hati. Dan bahasa cinta seperti itu tidak selalu bisa dipahami oleh semua orang.
“Apa lagi yang kamu ketahui tentang Mbak Mar?”
Pandangannya berkeliling ke setiap sudut kedai, seolah sedang mencari potongan ingatan yang tercecer. “I told you about that window once, right?”
“Jendela senja, iya.”
“She was the one who came up with that name.”
“Ohya?”
“Dia selalu suka duduk di depan jendela menjelang petang. Tidak melakukan apa-apa. Hanya termenung dan menerawang.”
Shaz ikut memandangi jendela senja tersebut. Ia mencoba membayangkan sosok Mbak Mar yang belum pernah ditemuinya—duduk seorang diri di sana, menunggu matahari perlahan tenggelam.
“One day, she told me she could see the most beautiful sunset in the world from here. And that’s how the whole naming thing began…”
“Karena itu aku jadi bertanya-tanya. Istilah 'jendela senja' terasa kontradiktif dengan nama kedai kopi ini.”
Iori menoleh, “Memang kenapa dengan nama Café Noir?”
“Café Noir bermakna ganda, bukan?” tebak Shaz
Iori tersenyum kagum, “Gosh, you’re quick. How do you know?”
“Kedua katanya diawali huruf kapital.”
“Do you speak French?”
“Aku belajar beberapa bahasa untuk keperluan kerja.”