Saninten 16

Afina Iskandar
Chapter #33

33

➤ 33

Atmosfer di Rumah Saninten 16 terasa beku dan mencekam semenjak hari itu. Aster dan Mbak Mar sama-sama langsung menuju kamar masing-masing setelah kepergian Giong Bedes. Pecahan kaca yang berserakan di lantai dan ruang tamu tampak porak-poranda. Rui berniat membereskannya, tetapi pikirannya terlalu semrawut untuk merapikan semuanya seperti sedia kala. Ia berjanji akan membersihkan kekacauan ini keesokan harinya. Namun, di pagi hari, ternyata ruang tamu sudah kembali bersih. Tidak ada yang akan mengira bahwa sehari sebelumnya telah terjadi huru-hara di tempat itu. Jika dipikir-pikir, Rui tidak pernah melihat proses pembersihan rumah sebesar ini. Ia tidak pernah berpapasan dengan orang-orang selain para penghuni. Itu artinya, tidak ada petugas khusus yang dipanggil untuk merapikan setiap sudut bangunan. Namun demikian, Rui juga merasa tidak pernah menyaksikan Mbak Mar membersihkan rumah. Ia hanya terlihat merapikan kamar penghuni yang baru saja pergi. Saking banyaknya kejanggalan di Rumah Saninten 16, Rui mulai menganggap hal-hal yang abnormal sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar.

Sore itu, Rui tiba-tiba teringat pertemuan terakhirnya dengan Aster, sesaat sebelum Giong Bedes mengamuk. Wanita itu seolah ingin mengungkapkan sesuatu yang berkaitan dengan sumur di belakang rumah. Rui masih ingat ekspresi wajahnya ketika itu. Pucat, gelisah, dan seperti sedang berusaha memutuskan apakah sesuatu layak untuk diketahui orang lain. Rui mengunjungi Atelire, berharap menemukan Aster di sana. Di ujung rak, seseorang tampak sedang duduk merenung memandang jendela. Mbak Mar. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, tetapi matanya tidak tertuju pada halaman. Pandangannya justru mengikuti awan-awan yang bergerak perlahan di langit. Mbak Mar mengenakan kemeja berwarna olive green yang dipadukan dengan rok panjang bernuansa batik. Seperti biasa, penampilannya sederhana, anggun, dan nyaris tanpa cela. Ia merasa kehadiran Mbak Mar sore itu terlalu tenang untuk diganggu.

When does determination become an obsession?”

Rui terdiam mendengarnya. Pertanyaan Mbak Mar itu ditujukan kepada siapa, tidak ada yang tahu. Mbak Mar akhirnya menutup bukunya perlahan dan mengalihkan pandangan kepada Rui. 

“Apa yang kamu sukai dari Atelire?” Mbak Mar justru mengajukan pertanyaan lain.

“Semuanya," jawab Rui dengan spontan. "Tidak ada yang tidak saya suka dari tempat ini.”

“Baguslah kalau begitu. Atelire memang dibangun supaya orang-orang yang datang ke sini bisa sepenuhnya ‘merasa’.”

“Merasa.” Rui mengulang lirih kata itu.

“Manusia terlalu sibuk berpikir sampai luput merasakan dengan sungguh-sungguh. Mereka kerap menganggap sesuatu benar hanya karena itulah yang mereka yakini. Padahal yang mereka ketahui sering kali sebatas hal-hal yang dekat dengan dirinya.”

Lihat selengkapnya