➤ 34
Kamar Aster dibersihkan seminggu sebelum Rumah Saninten 16 lenyap habis dimakan api.
Kalimat terakhir yang Ara tulis dalam buku catatannya. Sepertinya, tulisan Rui juga terhenti di bagian itu. Shaz membolak-balik seluruh halaman, berharap menemukan petunjuk apa pun yang mungkin terlewat. Namun tidak ada lagi tulisan setelahnya.
“What do you really hope to achieve, by writing this whole story about the house?” Suara Iori terdengar dari balik meja barista. Tatapannya tampak sedikit berbeda, terutama setelah Shaz menceritakan kisah di balik Hutan Pemakan Manusia. Sejak awal, cerita itu mungkin lebih baik disimpan rapat di laci ingatannya sendiri.
“Memperoleh kebenaran,” jawab Shaz singkat.
“And then what? Once the truth comes out, what happens next?”
“Kita bisa menyelamatkan Ara, Rui, dan mungkin—para penghuni lainnya?”
Iori memicingkan mata, “Is your real goal to save them?”
Shaz mendadak merasa sedang disudutkan. “Apakah ini gara-gara ceritaku tentang ‘Hutan Pemakan Manusia’?” Nada suaranya terdengar defensif.
“Kamu tahu kalau tulisanmu tentang Rumah Saninten 16 akan menjadi berita besar. That’s why you want to meet Ara.”
“I am a journalist. This is what I do.” Nada bicara Shaz meninggi. “Kamu berharap aku melakukan apa?”
“Well, you could apologize to Raka first.”