➤ 37
Café Noir tampak benar-benar hitam, seperti makna namanya secara harfiah. Tidak ada kehidupan di dalamnya. Hanya tersisa jejak-jejak pengunjung yang entah kapan terakhir kali memenuhi ruangan ini. Pintu masuk kedai yang ternyata tidak terkunci menjadi kejanggalan pertama yang disadari Shaz. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Seperti dugaannya, tidak ada siapa pun di sana. Terlebih Iori. Tanpa disadari, Shaz mulai merindukan percakapan-percakapan singkat mereka. Iori adalah kawan yang dikenalnya dalam waktu yang singkat, tetapi entah bagaimana meninggalkan kesan yang cukup dalam. Sebuah meja di sudut ruangan menarik perhatiannya. Di atasnya, terdapat sebuah gelas yang masih terisi setengah, sekaleng soda, dan seiris lemon. Shaz langsung mengenali kebiasaan tersebut. Ara pernah memesan minuman dengan cara yang sama.
Ara mungkin baru saja berada di sini. Gelembung-gelembung karbonasi masih tampak bergerak perlahan di permukaan minuman. Setidaknya, itu membuat Shaz menyimpulkan bahwa Ara belum lama meninggalkan kedai. Jadi, setelah menghilang dari auditorium, apakah Ara datang ke Café Noir seorang diri? Shaz tidak punya jawabannya. Ia menarik kursi dan duduk di tempat yang sama ketika mereka bertemu, tiga minggu lalu. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Seolah-olah ia sedang duduk di dalam sebuah percakapan yang belum benar-benar selesai. Kakinya tiba-tiba menyentuh sesuatu di bawah meja. Shaz menunduk. Sebuah tumpukan kertas yang sudah cukup usang tergeletak di lantai. Beberapa lembar tampak menguning di bagian tepinya dan seluruhnya disatukan dengan beberapa staples. Shaz mengambilnya. Rasa penasaran membuatnya membuka lembar pertama. Tulisan di sana bukan catatan biasa. Itu adalah kumpulan liputan jurnalistik dari beberapa tahun silam. Beberapa di antaranya bahkan sudah begitu lama hingga tanggal terbitnya nyaris pudar. Shaz membolak-balik halaman demi halaman. Semakin lama ia membaca, semakin berubah ekspresinya.
Beberapa lembar pertama berisi berita yang pernah ditulis Shaz pada awal kariernya, sebuah liputan mengenai kasus cyberbullying yang marak terjadi di kalangan mahasiswa. Saat itu, Shaz ditugaskan meliput sebuah universitas di Kota B setelah seorang mahasiswi memutuskan mengakhiri hidupnya ketika sedang melakukan live streaming. Video tersebut menyebar luas dan memicu kemarahan publik. Tuntutan agar pihak berwenang segera mengungkap pelaku pun bermunculan. Penyelidikan dimulai. Beberapa orang kemudian ditetapkan sebagai terduga pelaku, termasuk sejumlah mahasiswi yang diketahui berulang kali menuliskan hate speech di kolom komentar korban serta membicarakan aibnya melalui berbagai media sosial.
Sebagai wartawan yang masih relatif baru, banyak hal luput dari perhatian Shaz. Salah satunya adalah prinsip untuk tidak mengekspos identitas seseorang sebelum status hukumnya benar-benar jelas. Dalam liputannya, Shaz menampilkan foto para terduga pelaku beserta beberapa teman mereka tanpa menyamarkan wajah. Beberapa bulan kemudian, dua orang pelaku utama dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan denda sebesar tujuh ratus lima puluh juta rupiah. Shaz membalik halaman berikutnya. Lembar-lembar setelahnya berisi rangkaian liputan yang ia tidak ingat pernah membacanya. Perihal seorang perempuan berusia dua puluh satu tahun yang kehilangan hidupnya setelah menjadi sasaran perundungan warganet. Namanya Amarasatya Ruhani. Ia bukan pelaku, namun wajahnya ikut ditampilkan secara jelas dalam liputan Shaz karena berada di antara foto-foto teman para terduga pelaku. Warganet kemudian menganggapnya sebagai salah satu pelaku cyberbullying. Tuduhan menyebar lebih cepat daripada klarifikasi apa pun yang bisa diberikan. Amarasatya menerima hujatan dari berbagai arah: warganet, keluarga korban, bahkan pihak universitas. Tekanan yang terus-menerus ia terima membuat kondisi mentalnya memburuk. Beberapa hari sebelum meninggal, ia sempat mengeluhkan sakit kepala yang hebat kepada keluarganya. Namun, ia menolak pergi ke dokter.
“Aku cuma perlu tidur. Nanti juga sembuh sendiri.”
Empat hari kemudian, Amarasatya ditemukan tidak bernyawa di kamar kosnya. Sendirian. Tubuhnya sudah dingin dan membiru. Posisinya tampak seperti seseorang yang sedang tertidur pulas. Hanya saja, tanpa napas ataupun denyut nadi. Shaz berhenti membaca. Tangannya mulai gemetar. Amarasatya adalah warga sipil biasa yang tidak pernah terlibat dalam kasus tersebut. Namun, hidupnya perlahan dirampas oleh sebuah kesalahan yang dilakukan Shaz bertahun-tahun lalu. Ia menderita sendirian sampai kematian mengakhiri semuanya. Shaz menutup mulutnya. Rasa mual tiba-tiba memenuhi tenggorokan. Ia menahan napas sebisanya. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya mencengkeram tepi meja.