Nama saya A. Jujur, saya cukup kaget membaca utas tentang “Misteri Rumah Saninten 16” yang ditulis wartawan berinisial SS. Karena saya kenal rumah itu. Dan hampir semua yang ditulis SS itu tidak benar! (1/20)
Rumah Saninten 16 sudah ditempati kakek dan nenek saya sejak tahun 60-an. Kakek saya seorang penyair dan sastrawan. Buku dan jurnalnya sudah cukup banyak diterbitkan. Nenek saya guru SD. Lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk mengajar. (2/20)
Nenek meninggal karena kanker serviks. Setelah itu, kakek tinggal sendirian di rumah tersebut. Sampai usianya 76 tahun, kakek didiagnosis demensia dan skizofrenia. Sejak saat itu, kondisi beliau semakin membutuhkan pengawasan. (3/20)
Anak-anaknya akhirnya menyewa seorang perawat untuk mendampingi kakek 24 jam. Dan sejak sakit, perilaku kakek memang berubah. Beliau takut matahari. Sering tiba-tiba membakar benda-benda koleksi yang dulu sangat disayanginya. Kadang bisa berdiri berjam-jam di beranda tanpa melakukan apa-apa. (4/20)
Yang paling ekstrem? Kakek pernah menangkap beberapa kucing liar dan membuangnya ke sumur tua di belakang rumah. Kalau kalian penasaran isi sumurnya, silakan saja diperiksa. Tapi saya ingatkan: yang ada di sana kerangka kucing, bukan manusia. (5/20)
Saya sengaja menjelaskan ini karena SS menjadikan sumur itu seolah-olah bagian dari misteri besar Rumah Saninten 16. Padahal alasannya jauh lebih menyedihkan dari pada itu. (6/20)
Lalu kenapa tidak ada tetangga yang tahu kalau rumah itu masih dihuni? Karena kakek hampir tidak pernah keluar rumah pada pagi atau siang hari. Beliau justru biasa keluar setelah lewat jam satu malam. (7/20)
Perawatnya juga hanya keluar sebentar sebelum subuh, ketika kakek sudah tertidur. Lalu kembali sebelum matahari benar-benar terbit. Jadi kalau dari luar rumah itu terlihat kosong… ya, memang karena hampir tidak ada aktivitas di sana. (8/20)