SANTRI DI BORNEO

Dedy Prasetya Putra
Chapter #1

SANTRI DI BORNEO Dari Cinta Menuju Peradaban Buku Ketiga Trilogi "Santri Pinggiran" Bab 1 Rumah Kecil, Mimpi Besar

Bab 1  Rumah Kecil, Mimpi Besar

Rumah kontrakan itu tidak besar. Dua kamar, satu ruang tamu yang juga merangkap ruang makan, dan dapur kecil di belakang yang jendelanya menghadap kebun singkong tetangga. Tapi bagi Raka, pagi itu, rumah itu terasa seperti istana.

Ia berdiri di ambang pintu sambil menyeruput kopi, memandangi Aisyah yang sibuk menata kardus-kardus di sudut ruangan. Rambutnya yang tertutup kerudung sederhana sesekali jatuh menutupi wajahnya saat ia membungkuk, lalu ia sibakkan lagi dengan punggung tangan tanpa henti bekerja.

"Sudah kubilang, biar aku yang angkat-angkat," kata Raka, meletakkan cangkirnya di meja kayu yang masih berbau pernis baru.

"Ini cuma buku-buku catatan pondok, Mas. Ringan," jawab Aisyah tanpa menoleh. "Lagian, kalau kau yang pegang semua, aku ngapain di rumah?"

Raka tertawa kecil. Beginilah rumah tangga mereka dimulai bukan dengan gemerlap, bukan dengan pesta besar, tapi dengan kardus-kardus buku dan aroma cat tembok yang belum sepenuhnya hilang. Tulungagung menyambut mereka dengan udara pagi yang sejuk dan suara azan Subuh yang menggema dari empat penjuru, mengingatkan Raka pada masa-masa ia masih jadi santri kecil di Al-Falah, dulu, sebelum semua jalan hidupnya berbelok ke arah yang tak pernah ia bayangkan.

Sekarang ia sarjana ekonomi. Sekarang ia investor, meski masih kecil-kecilan, mengelola portofolio saham syariah yang ia bangun sejak masa kuliah dengan penuh kehati-hatian. Dan sekarang, ia juga suami.

Aisyah akhirnya berhenti menata kardus, duduk sejenak di lantai sambil menyandarkan punggung ke dinding, napasnya sedikit terengah. Raka mendekat, duduk di sampingnya, lalu tanpa banyak bicara meraih tangan istrinya yang masih berdebu bekas kardus, menggenggamnya pelan.

"Capek?" tanyanya lembut.

"Sedikit," jawab Aisyah, menyandarkan kepala ke bahu suaminya. "Tapi senang, Mas. Ini rumah kita."

Raka mengecup puncak kepala istrinya sekilas, lembut, seperti mengucap syukur tanpa kata. "Rumah kecil, tapi cukup buat kita berdua mulai segalanya."

Mereka duduk begitu beberapa saat, tidak buru-buru, membiarkan pagi mengalir pelan di antara kardus-kardus yang belum semuanya terbuka dua orang yang baru saja jadi satu, masih canggung, masih belajar, tapi menikmati setiap detiknya.

"Ayo," kata Aisyah akhirnya, bangkit sambil menarik tangan Raka. "Nanti siang kita harus ke pondok. Aku belum sempat cerita, Ustadz Arif minta ketemu."

✦ ✦ ✦

Sore harinya, mereka berjalan kaki ke pondok. Jaraknya tak jauh, hanya melewati dua gang dan sebuah jembatan kecil di atas selokan yang airnya jernih mengalir dari arah sawah. Ustadz Arif sudah menunggu di serambi, duduk bersila dengan tasbih di tangan, seperti biasa.

Lihat selengkapnya