SANTRI DI BORNEO

Dedy Prasetya Putra
Chapter #2

Bab 2 Ladang yang Tidur

Bab 2   Ladang yang Tidur

Pagi-pagi sekali, Aisyah sudah berdiri di pematang tanah kosong itu, sepatu bootnya basah oleh embun. Di hadapannya terhampar lahan seluas kira-kira satu hektar separuhnya ditumbuhi singkong yang daunnya lebat, separuh lagi semak liar setinggi lutut yang tak pernah tersentuh cangkul.

Raka menyusul beberapa langkah di belakang, membawakan termos kopi dan dua gelas kecil yang ia siapkan sebelum berangkat. Ia berhenti sejenak di samping istrinya, menuangkan kopi hangat ke salah satu gelas, lalu menyodorkannya.

"Minum dulu," katanya. "Biar tidak masuk angin, jalan pagi-pagi begini."

Aisyah menerimanya sambil tersenyum, jemarinya menyentuh jemari Raka sekilas saat gelas berpindah tangan. "Terima kasih, Mas. Kau ini, baru dua bulan menikah, sudah pintar mengurus istri."

"Belajar dari siapa lagi kalau bukan dari istri sendiri," goda Raka, membuat pipi Aisyah merona meski ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lahan di depan mereka, menyembunyikan senyum yang tak bisa ia tahan.

"Ini semua tanah wakaf?" tanya Raka, berdiri di sampingnya sambil melipat lengan baju.

"Katanya begitu. Ada di buku catatan lama pondok wakaf dari almarhum Haji Mansyur, tahun 1987." Aisyah membuka buku catatannya, menunjuk tulisan tangan yang mulai pudar tintanya. "Tapi setelah beliau wafat, tidak ada yang benar-benar mengurus.

Ya sudah, jadi begini."

Dari kejauhan, seorang lelaki paruh baya berjalan mendekat sambil membawa cangkul di pundak. Kulitnya legam terbakar matahari, sarung yang ia kenakan sudah lusuh di bagian bawah.

"Bu Aisyah," sapanya, agak canggung. "Ada perlu apa pagi-pagi ke sini?"

"Pak Slamet." Aisyah tersenyum ramah. "Saya mau bicara soal tanah ini."

Wajah Pak Slamet berubah waspada. "Soal apa, Bu?"

"Bukan mau mengusir, Pak. Tenang saja." Aisyah cepat-cepat menenangkan. "Cuma mau tanya, sudah berapa lama Bapak menanam singkong di sini?"

"Sudah... tujuh tahun, Bu. Dulu izin ke almarhum Kiai Romli, katanya boleh, daripada tanahnya jadi semak semua." Pak Slamet menggaruk kepalanya. "Hasilnya juga kadang saya bagi sedikit ke dapur pondok, kalau panen bagus."

Raka dan Aisyah bertukar pandang. Bukan itikad buruk, pikir Raka. Hanya tidak ada yang pernah benar-benar mengurus tanah ini sejak awal.

"Begini, Pak," kata Aisyah pelan-pelan. "Pondok mau mulai kelola tanah ini secara resmi. Bukan berarti Bapak langsung harus berhenti, tapi ke depannya kami mau bikin rencana yang lebih... tertata. Nanti kalau sudah jelas, kami bicarakan lagi sama Bapak, mau dilanjutkan kerja samanya dengan cara yang lebih adil, atau bagaimana."

Pak Slamet mengangguk-angguk, meski matanya masih menyimpan sedikit kekhawatiran. "Ya sudah, Bu. Monggo saja. Yang penting jangan mendadak, saya masih ada tanggungan sekolah anak."

Lihat selengkapnya