Bab 4 Berhasil, dan Siap Melangkah
Enam bulan berlalu lebih cepat dari yang Raka bayangkan.
Pagi itu, ia berdiri di depan kandang yang setengah terisi dua ribu lima ratus ekor ayam petelur, separuh dari rencana awal, berjejer rapi dalam kandang baterai yang bersih. Suara kokokan dan kepakan sayap memenuhi udara, bercampur aroma pakan dan sekam yang khas.
"Berapa hasil hari ini?" tanya Raka pada seorang santri yang sedang mencatat di papan tulis kecil di sudut kandang.
"Seribu delapan ratus butir, Kang," jawab santri itu, Faisal namanya, salah satu dari lima santri yang bergiliran jaga kandang.
"Naik terus dari minggu lalu."
Raka mengangguk puas, mencatat angka itu di ponselnya aplikasi sederhana yang ia buat sendiri untuk melacak produksi harian, biaya pakan, dan penjualan. Kebiasaan lama dari masa kuliahnya menganalisis laporan keuangan perusahaan, sekarang ia pakai untuk menganalisis kandang ayam.
Di sisi lain lahan, Aisyah berjongkok di antara rimbunan daun pepaya yang mulai berbuah, memeriksa satu per satu buahnya yang mulai menguning di pangkal. Pak Slamet berjalan mendekat, membawa sekeranjang serai segar yang baru dipanen.
"Bu Aisyah, ini serainya sudah bisa dijual ke Bu Warsih, katanya mau ambil rutin buat warung jamunya."
"Alhamdulillah, Pak. Berarti sudah ada pelanggan tetap." Aisyah tersenyum lega. "Kunirnya bagaimana, Pak? Sudah bisa dipanen juga?"
"Sebentar lagi, Bu. Mungkin dua minggu lagi." Pak Slamet menyeka keringat di dahinya, tapi wajahnya tampak lebih segar dari enam bulan lalu bukan lagi lelaki yang was-was ditanyai soal tanah, tapi seorang yang punya peran jelas dan penghasilan tetap.
✦ ✦ ✦
Sore itu, di ruang tamu Ustadz Arif, pertemuan bulanan kembali digelar. Kali ini suasananya jauh berbeda dari enam bulan lalu.
Pak Karim membolak-balik laporan keuangan yang disusun rapi oleh Raka pemasukan dari telur, penjualan serai dan kunir, dikurangi biaya operasional dan gaji santri. Angka di bagian bawah menunjukkan surplus, meski belum besar.