Bab 5 Pulang ke Borneo
Pesawat baru saja lepas landas dari Bandara Juanda ketika Aisyah mulai bicara.
Ia duduk di kursi jendela, memandangi awan yang perlahan menelan daratan Jawa di bawah sana. Raka di sampingnya, masih menunggu, tidak ingin terburu-buru memecah keheningan yang sejak semalam menggantung di antara mereka.
"Namaku memang Aisyah Rahmadhani," katanya pelan, seperti mengulang sesuatu yang sudah lama ia hafal di kepala tapi baru kali ini berani ia ucapkan lantang. "Tapi orang-orang di Martapura mengenalku sebagai Nurul Aisyah Al-Banjari. Anak dari Haji Muhammad Rasyid pemilik beberapa perusahaan tambang batu bara, dan salah satu keturunan bangsawan Banjar dari garis ibu."
Raka menggenggam tangan istrinya, tidak berkata apa-apa dulu, membiarkan Aisyah melanjutkan.
"Ayahku meninggal saat aku SMA. Ibu... sudah lebih dulu, waktu aku masih kecil. Setelah Ayah wafat, aku diasuh Paman Zainal adik ayahku, yang sekarang mengelola sebagian besar usaha keluarga." Aisyah menatap awan di luar jendela, suaranya mulai bergetar. "Aku bisa saja hidup mewah, Mas. Kuliah di luar negeri, tidak perlu kerja apa-apa seumur hidup. Tapi aku... aku memilih pergi. Mondok ke Jawa, ganti nama panggilan, dan tidak pernah cerita ke siapa pun soal keluargaku."
"Kenapa?" tanya Raka akhirnya, suaranya lembut, tidak menghakimi.
Aisyah menoleh, matanya berkaca-kaca. "Karena aku takut, Mas. Takut orang-orang dekat denganku bukan karena aku, tapi karena hartanya. Takut jadi seperti sepupu-sepupuku, yang hidupnya diukur dari berapa hektar tanah dan berapa ton batu bara yang keluarga kami tambang tiap bulan." Ia menarik napas panjang. "Aku ingin mengawali semuanya dari nol, Mas. Ingin tahu rasanya dicintai, dinilai, diterima bukan karena nama besar keluarga, tapi karena diriku sendiri."
Raka terdiam lama. Ada rasa yang campur aduk di dadanya bukan marah, bukan juga merasa tertipu, tapi semacam kehilangan pijakan, seperti bangunan yang selama ini ia kira sederhana ternyata berdiri di atas fondasi yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
"Kau menikahiku," katanya pelan, "padahal kau bisa dapat siapa saja."
"Justru karena itu aku menikahimu, Mas." Aisyah meremas tangan suaminya erat. "Kau mencintaiku waktu aku cuma Aisyah, santri biasa yang bantu-bantu di dapur pondok. Kau tidak pernah tahu soal tambang, soal warisan, soal apa pun itu. Yang kau tahu cuma aku, apa adanya."
Raka mengangkat tangan istrinya, menciumnya pelan, matanya mulai memerah menahan haru. "Aku tidak marah, Aisyah. Cuma... butuh waktu mencerna. Tapi satu yang pasti apa pun latar belakangmu, kau tetap istriku. Itu tidak berubah."